Langsung ke konten utama

laporan PKL perikanan purse seine lampulo


LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN


TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP
PURSE SEINE DI LAMPULO
BANDA ACEH




BAHARI
1405904010009








 











PROGRAM STUDI PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS TEUKU UMAR
MEULABOH
 2016



KATA PENGATAR


 Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan proposal praktik kerja lapangan (PKL) tentang TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP PURSE SEINE.

    proposal praktik kerja lapangan (PKL) ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan  ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan laporan ini

 Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki proposal praktik kerja lapangan (PKL) ini.    

Akhir kata kami berharap semoga proposal praktik kerja lapangan (PKL) tentang TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP PURSE SEINE ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.


                                                                                                                        PENULIS.







DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGATAR............................................................................................ i
LEMBAR PEGESAHAN.................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
BAB 1.PENDAHULUAN.................................................................................... 1
              1.1 Latar Belakang....................................................................................1
              1.2 Tujuan..................................................................................................2
              1.3 Manfaat................................................................................................2
BAB II.TINJAUN PUSTAKA............................................................................ .3
              2.1 Definisi Purse Seine............................................................................3
              2.2 Hasil Tangkapan..................................................................................5
              2.3 Daerah Penangkapan...........................................................................6
              2.4 Alat Bantu Penangkapan.....................................................................6
              2.5 Teknik Penangkapan (setting dan hauling).........................................7
              2.6 hal-hal yang mempegaruhi keberhasilan penagkapan.........................8
BAB III.METODELOGI PKL........................................................................... 10
              3.1 Waktu dan Tempat..............................................................................10
              3.2 Metode pengumpulan data..................................................................10
BAB IV.PELAKSANAAN KEGIATAN.......................................................... ...12
              4.1 Persiapan.............................................................................................12
              4.2 .Kelengkapan Dalam Penangkapan Dan Alat Bantu Penangkapan....13
              4.3 .Daerah Pengoperasian Alat Tangkap Purse Seine.............................15
              4.4 Metode Pengoperasian Alat Tangkap Purse Seine.............................16
              4.5  Hasil Tangkapan.................................................................................20
BAB V.PENUTUP............................................................................................... ..21
              5.1 Kesimpulan..........................................................................................21
              5.2  Saran...................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... ..23





LEMBARAN PENGESAHAN


Judul                 : Teknik Pengoperasian Alat Tangkap Purse Seine
Nama                : BAHARI
NIM                  :    1405904010009
Program Studi   :                              Perikanan Dan Ilmu Kelautan










Mengetahui,
Ketua Program studi



Syarifah Zuraidah,S.Pi.,M.Si
         NIDT : 05919830902 200180 02
Disetujui,
Dosen Pembimbing



M.Agam Thahir,S.Pi.,M.Si
         NIDT : 0591989102 4201609 01






BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang
                  Negara Indonesia merupakan negara yang kaya Sumber Daya Alam (SDA), salah satunya dibidang perikanan. Oleh karena itu banyak orang di negara kita membuat berbagai macam alat tangkap agar SDA yang kita miliki bisa dimanfaatkan, akan tetapi ada kalangan kita mendapatkan SDA itu  dengan cara yang dilarang sehingga menyebabkan banyak kerusakan terhadap biota–biota laut yang semestinya kita lindungi.
                 Disamping itu, perairan Lampulo  merupakan daerah penangkapan yang baik untuk jenis ikan pelagis. Berbagai jenis kapal dan alat tangkap dengan ukuran yang berbeda/bervariasi terdapat disana. Salah satunya adalah kapal purse seine yang mengoperasikan alat tangkap purse seine. Alat tangkap ini cukup mendomisili di daerah tersebut.
Sumberdaya ikan yang terdapat di Perairan Lampulo adalah sangat bervariasi, tetapi yang banyak dieksploitasi adalah jenis ikan pelagis diantaranya adalah ikan teri (S.commersonnii), ikan kembung lelaki (R. kanagurta), layang (D. russelli), selar (C. leptolepis),tongkol (E. affinis) dan tuna sirip kuning (thunus)
Untuk mengeksploitasi jenis-jenis ikan tersebut di Perairan Lampulo, masyarakat desa pada umumnya menggunakan alat tangkap purse seine (pukat cincin). Alat tangkap jenis ini sangat efektif dalam menangkap jenis ikan pelagis yang hidupnya suka bergerombol (scholing pelagic species).Selain sangat efektif, alat tangkap jenis ini juga dapat menangkap ikan dalam jumlah lebih banyak jika dibandingkan dengan alat tangkap yang lain (gill net, pancing dan bubu).Purse Seine disebut juga “pukat cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “tali kolor” atau “tali kerut” dilalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut/tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk kantong pada bagian bawah jaring (Mudtahid, 2003).
Adanya dominan pengoperasian alat tangkap purse seine untuk mengeploitasi potensi perikanan yang cukup besar di Lampulo, maka  penulis ingin melakukan kegiatan Praktek Kerja Lapangan(PKL) dengan tujuan untuk mengetahui keunikan atau karakteristik dari teknik pengoperasian alat tangkap purse seine Lampulo,Banda Aceh.
1.2 Tujuan
          Tujuan dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan judul Teknik Pengoperasian Alat Tangkap Purse Seine di Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh  adalah untuk mengetahui teknik pengoperasian alat tangkap   purse seine yang ada di Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.
1.3 Manfaat
1.      Bagi mahasiswa, yaitu sebagai informasi sehingga diharapkan dapat  menambah wawasan, pengetahuan serta keterampilan secara teknis bagi mahasiswa tentang konstruksi dan teknik pengoperasian alat tangkap purse seine yang sebenarnya.
2.      Bagi Masyarakat, dijadikan bahan acuan untuk meningkatkan produktivitas perikanan  purse seine di daerah setempat.














BAB II
TIJAUAN PUSTAKA
2.1.PURSE SEINE
2.1.1 Definisi Purse Seine
Purse Seine disebut juga “Pukat Cincin” karena alat tangkap ini dilengkapi dengan cincin untuk mana “Tali Cincin” atau “Tali Kerut” di lalukan di dalamnya. Fungsi cincin dan tali kerut / tali kolor ini penting terutama pada waktu pengoperasian jaring. Sebab dengan adanya tali kerut tersebut jaring yang tadinya tidak berkantong akan terbentuk pada tiap akhir penangkapan.
Prinsip menangkap ikan dengan purse seine adalah dengan melingkari suatu gerombolan ikan dengan jaring, setelah itu jaring bagian bawah dikerucutkan, dengan demikian ikan-ikan terkumpul di bagian kantong. Dengan kata lain dengan memperkecil ruang lingkup gerak ikan. Ikan-ikan tidak dapat melarikan diri dan akhirnya tertangkap. Fungsi mata jaring dan jaring adalah sebagai dinding penghadang, dan bukan sebagai pengerat ikan.
Di Jepang purse seine dapat dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1) One Boat Horse Sardine Purse Seine
2) Two Boat Sardine Purse Seine
3) One Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine
4) Two Boat Horse Mackerel and Mackerel Purse Seine
5) One Boat Skipjack and Tuna Purse Seine
6) Two Boat skipjack and Tuna Purse Seine
Dari keenam macam purse seine di atas no (2), (3), (5) merupakan purse seine yang banyak digunakan.
Dalam laporan ini akan dibahas purse seine dengan menggunakan 1 kapal.
Ø  Prospektif Purse Seine
Pentingnya pukat cincin dalam rangka usaha penangkapan sudah tidak perlu diragukan untuk pukat cincin besar daerah penangkapannya sudah menjangkau tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan penangkapan mulai selat Malaka sampai laut Jawa dalam 1 trip penangkapan lamanya 30-40 hari diperlukan berkisar antara 23-40 orang. Untuk operasi penangkapannya biasanya menggunakan “rumpon”. Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis ikan pelagik (kembung,tuna,tongkol dan lain-lain).
Hasil tangkapan terutama tuna,tongkol, kembung, cumi-cumi.
1. Karakteristik
Dengan menggunakan one boat sistem cara operasi menjadi lebih mudah. Pada operasi malam hari lebih mungkin menggunakan lampu untuk mengumpulkan ikan pada one boat sistem. Dengan one boat sistem memungkinkan pemakaian kapal lebih besar, dengan demikian area operasi menjadi lebih luas dan HP akan lebih besar, yang menyebabkan kecepatan melingkari gerombolan ikan juga akan lebih besar. Oleh sebab itu dapat dikatakan tipe one boat akan lebih ekonomis dan efisien jika kapal mekaniser, karena dengan menggunakan sistem mekaniser pekerjaan menarik jaring, mengangkat jaring, mengangkat ikan dll pekerjaan di dek menjadi lebih mudah.
2. Bahan dan Spesifikasinya
1.   Bagian jaring
Nama bagian jaring ini belum di tentukan tapi ada yang membagi 2 yaitu “bagian tengah” dan “jampang”. Namun yang jelas ia terdiri dari 3 bagian yaitu:
1.  jaring utama, bahan nilon 210 D/9 #1”
2.  jaring sayap, bahan dari nilon 210 D/6 #1”
3.  jaring kantong, #3/4”
Srampatan (selvedge), dipasang pada bagian pinggiran jaring yang fungsinya untuk memperkuat jaring pada waktu dioperasikan terutama pada waktu penarikan jaring. Bagian ini langsung dihubungkan dengan tali temali. Srampatan (selvedge) dipasang pada bagian atas, bawah, dan samping dengan bahan dan ukuran mata yang sama, yakni PE 380 (12, #1”). Sebanyak 20,25 dan 20 mata.
2.      Tali temali
1.         tali pelampung.
Bahan PE Ø 10mm, panjang 420m.
2.         tali ris atas.
Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 420m.
3.      tali ris bawah.
Bahan PE Ø 6mm dan 8mm, panjang 450m.
3.      tali pemberat.
Bahan PE Ø 10mm, panjang 450m.
4.       tali kolor bahan.
Bahan kuralon Ø 26mm, panjang 500m.
5.       tali slambar
bahan PE Ø 27mm, panjang bagian kanan 38m dan kiri 15m
3.      Pelampung
Ada 2 pelampung dengan 2 bahan yang sama yakni synthetic rubber. Pelampung Y-50 dipasang dipinggir kiri dan kanan 600 buah dan pelampung Y-80 dipasang di tengah sebanyak 400 buah. Pelampung yang dipasang di bagian tengah lebih rapat dibanding dengan bagian pinggir.
4.            Pemberat
Terbuat dari timah hitam sebanyak 700 buah dipasang pada tali pemberat.
5.         Cincin
Terbuat dari besi dengan diameter lubang 11,5cm, digantungkan pada tali pemberat dengan seutas tali yang panjangnya 1m dengan jarak 3m setiap cincin. Kedalam cincin ini dilakukan tali kolor (Purse Line).
2.2. Hasil Tangkapan
Ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan yang “Pelagic Shoaling Species”, yang berarti ikan-ikan tersebut haruslah membentuk shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air (sea surface) dan sangatlah diharapkan pula agar densitas shoal itu tinggi, yang berarti jarak antara ikan dangan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin. Dengan kata lain dapat juga dikatakan per satuan volume hendaklah jumlah individu ikan sebanyak mungkin. Hal ini dapat dipikirkan sehubungan dengan volume yang terbentuk oleh jaring (panjang dan lebar) yang dipergunakan.
Jenis ikan yang ditangkap dengan purse seine terutama di daerah aceh dan sekitarnya adalah : Tongkol (Euthynnus affinis) Tuna sirip kuning (Thunnus albacares)  Layang (Decapterus sp), bentang, kembung (Rastrehinger sp) lemuru (Sardinella sp),

2.3. Daerah Penangkapan
Purse seine dapat digunakan dari fishing ground dengan kondisi sebagai berikut :
1) A spring layer of water temperature adalah areal permukaan dari laut
2) Jumlah ikan berlimpah dan bergerombol pada area permukaan air
3) Kondisi laut bagus
2.4. Alat Bantu Penangkapan
2.4.1 Lampu
Fungsi lampu untuk penangkapan adalah untuk mengumpulkan kawanan ikan kemudian dilakukan operasi penangkapan dengan menggunakan berbagai alat tangkap, seperti purse seine.Jenis lampu yang digunakan bermacam-macam, seperti petromaks, lampu listrik (penggunaannya masih sangat terbatas hanya untuk usaha penangkapan sebagian dari perikanan industri).
Ikan-ikan itu tertarik oleh cahaya lampu kiranya tidak terlalu dipermasalahkan sebab adalah sudah menjadi anggapan bahwa hampir semua organisme hidup termasuk ikan yang media hidupnya itu air terangsang (tertarik) oleh sinar / cahaya (phototaxis positif) dan karena itu mereka selalu berusaha mendekati asal / sumber cahaya dan berkumpul disekitarnya.

2.4.2 Rumpon
Rumpon merupakan suatu bangunan (benda) menyerupai pepohonan yang dipasang (ditanam) di suatu tempat ditengah laut. Pada prinsipnya rumpon terdiri dari empat komponen utama, yaitu : pelampung (float), tali panjang (rope) dan atraktor (pemikat) dan pemberat (sinkers / anchor).
Rumpon umumnya dipasang (ditanam) pada kedalaman 30-75 m. Setelah dipasang kedudukan rumpon ada yang diangkat-angkat, tetapi ada juga yang bersifat tetap tergantung pemberat yang digunakan.
Dalam praktek penggunaan rumpon yang mudah diangkat-angkat itu diatur sedemikian rupa setelah purse seine dilingkarkan, maka pada waktu menjelang akhir penangkapan, rumpon secara keseluruhan diangkat dari permukaan air dengan bantuan perahu penggerak (skoci).

2.5. Teknik Penangkapan (Setting dan hauling)
Pada umumnya jaring dipasang dari bagian belakang kapal (buritan) dan ada juga yang menggunakan samping kapal. Urutan operasi dapat digambarkan sebagai berikut :
a) Pertama-tama haruslah diketemukan gerombolan ikan terlebih dahulu. Ini dapat dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman, seperti adanya perubahan warna permukaan air laut karena gerombolan ikan berenang dekat dengan permukaan air, ikan-ikan yang melompat di permukaan terlihat riak-riak kecil karena gerombolan ikan berenang dekat permukaan. Buih-buih di permukaan laut akibat udara-udara yang dikeluarkan ikan, burung-burung yang menukik dan menyambar-nyambar permukaan laut dan sebagainya. Hal-hal tersebut diatas biasanya terjadi pada dini hari sebelum matahari keluar atau senja hari setelah matahari terbenam disaat-saat mana gerombolan ikan-ikan teraktif untuk naik ke permukaan laut. Tetapi dewasa ini dengan adanya berbagai alat bantu (fish finder, dll) waktu operasipun tidak lagi terbatas pada dini hari atau senja hari, siang haripun jika gerombolan ikan diketemukan segera jaring dipasang.
b) Pada operasi malam hari, mengumpulkan / menaikkan ikan ke permukaan laut dilakukan dengan menggunakan cahaya. Biasanya dengan fish finder bisa diketahui depth dari gerombolan ikan, juga besar dan densitasnya. Setelah posisi ini tertentu barulah lampu dinyalakan (ligth intesity) yang digunakan berbeda-beda tergantung pada besarnya kapal, kapasitas sumber cahaya. Juga pada sifat phototxisnya ikan yang menjadi tujuan penangkapan.

c) Setelah fishing shoal diketemukan perlu diketahui pula swimming direction, swimming speed, density ; hal-hal ini perlu dipertimbangkan lalu diperhitungkan pula arah, kekuatan, kecepatan angin, dan arus, sesudah hal-hal diatas diperhitungkan barulah jaring dipasang. Penentuan keputusan ini harus dengan cepat, mengingat bahwa ikan yang menjadi tujuan terus dalam keadaan bergerak, baik oleh kehendaknya sendiri maupun akibat dari bunyi-bunyi kapal, jaring yang dijatuhkan dan lain sebagainya. Tidak boleh luput pula dari perhitungan ialah keadaan dasar perairan, dengan dugaan bahwa ikan-ikan yang terkepung berusaha melarikan diri mencari tempat aman (pada umumnya tempat dengan depth yang lebih besar) yang dengan demikian arah perentangan jaring harus pula menghadang ikan-ikan yang terkepung dalam keadaan kemungkinan ikan-ikan tersebut melarikan diri ke depth lebih dalam. Dalam waktu melingkari gerombolan ikan kapal dijalankan cepat dengan tujuan supaya gerombolan ikan segera terkepung. Setelah selesai mulailah purse seine ditarik yang dengan demikian bagian bawah jaring akan tertutup. Melingkari gerombolan ikan dengan jaring adalah dengan tujuan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri dalam arah horisontal. Sedang dengan menarik purse line adalah untuk mencegah ikan-ikan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri ke bawah. Antara dua tepi jaring sering tidak dapat tertutup rapat, sehingga memungkinkan menjadi tempat ikan untuk melarikan diri. Untuk mencegah hal ini, dipakailah galah, memukul-mukul permukaan air dan lain sebagainya. Setelah purse line selesai ditarik, barulah float line serta tubuh jaring (wing) dan ikan-ikan yang terkumpul diserok / disedot ke atas kapal.
2.6. Hal-hal yang Mempengaruhi Keberhasilan Penangkapan
1. Kecerahan Perairan
Transparasi air penting diketahui untuk menentukan kekuatan atau banyak sedikit lampu. Jika kecerahan kecil berarti banyak zat-zat atau partikel-partikel yang menyebar di dalam air, maka sebagian besar pembiasan cahaya akan habis tertahan (diserap) oleh zat-zat tersebut, dan akhirnya tidak akan menarik perhatian atau memberi efek pada ikan yang ada yang letaknya agak berjauhan.
2. Adanya gelombang
Angin dan arus angin. Arus kuat dan gelombang besar jelas akan mempengaruhi kedudukan lampu. Justru adanya faktor-faktor tersebut yang akan merubah sinar-sinar yang semula lurus menjadi bengkok, sinar yang terang menjadi berubah-ubah dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan (flickering light). Makin besar gelombang makin besar pula flickering lightnyadan makin besar hilangnya efisiensi sebagai daya penarik perhatian ikan-ikanmaupun biota lainnya menjadi lebih besar karena ketakutan. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan penggunaan lampu yang kontruksinya disempurnakan sedemikian rupa, misalnya dengan memberi reflektor dan kap (tudung) yang baik atau dengan menempatkan under water lamp.
3. Sinar Bulan
Pada waktu purnama sukar sekali untuk diadakan penangkapan dengan menggunakan lampu (ligth fishing) karena cahaya terbagi rata, sedang untuk penangkapan dengan lampu diperlukan keadaan gelap agar cahaya ;ampu terbias sempurna ke dalam air.
4. Musim
Untuk daerah tertentu bentuk teluk dapatmemberikan dampak positif untuk penangkapan yang menggunakan lampu, misalnya terhadap pengaruh gelombang besar, angin dan arus kuat. Penangkapan dengan lampu dapat dilakukan di daerah mana saja maupun setiap musim asalkan angin dan gelombang tidak begitu kuat.
5. Ikan dan Binatang Buas
Walaupun semua ikan pada prinsipnya tertarik oleh cahaya lampu, namun umumnya lebih didominasi oleh ikan-ikan kecil. Jenis-jenis ikan besar (pemangsa) umumnya berada di lapisan yang lebih dalam sedang binatang-binatang lain seperti ular laut, lumba-lumba berada di tempat-tempat gelap mengelilingi kawanan-kawanan ikan-ikan kecil tersebut. Binatang-binatang tersebut sering menyerbu (menyerang) ikan-ikan yang bekerumun di bawah lampu dan akhirnya mencerai beraikan kawanan ikan yang akan ditangkap.
6. Panjang dan Kedalaman Jaring
Untuk purse seine yang beroperasi dengan satu kapal digunakan jaring yang tidak terlalu panjang tetapi agak dalam karena gerombolan ikan di bawah lampu tidak bergerak terlalu menyebar . jaring harus cukup dalam untuk menangkap gerombolan ikan mulai permukaan sampai area yang cukup dalam di bawah lampu.
7.   Kecepatan kapal pada waktu melingkari gerombolan ikan
   Jika kapal dijalankan cepat maka gerombolan ikan dapat segera terkepung.
8.   Kecepatan Menarik Purse Line
   Purse line harus ditarik cepat agar ikan jangan sampai melarikan diri ke bawah.
BAB III
METODELOGI PKL
3.1 Waktu Dan Tempat
3.1.1 Waktu
Waktu pelaksanaan PKL ini dilaksanakan/dimulai dari tanggal 05 januari 2017 sampai pada tanggal 26 januari 2017.
3.1.2  Tempat
Tempat atau lokasi Praktik kerja Lapangan (PKL) ini dilaksanakan di Lampulo Kecamatan Kuta Alam kota Banda Aceh. Lampulo merupakan salah satu desa di kecamatan kuta alam dari kota banda aceh, yang merupakan salah satu pusat perikanan terbesar di aceh, dimana salah alat tangkap yang digunakan di lampulo yaitu alat tangkap purse seine,
3.2 Metode Pengumpulan Data
3.2.1 Metode Pengumpulan
1. Metode observasi
Metode observasi adalah salah satu metode pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Dalam hal ini, penulis mengamati para abk yang bekerja di kapal
2. Metode Kepustakaan/Studi Pustaka
Metode kepustakaan adalah metode pengumpulan data dengan cara menggunakan buku atau referensi yang berkaitan dengan topik yang sedang dibahas.



3.2.2. Jenis Sumber Data
Jenis sumber data yang digunakan penulis adalah:
1. Data primer
Data primer adalah data yang diperoleh dengan cara mengunjungi tempat yang ingin diamati untuk memperoleh data-data yang aktual dan sesuai fakta.dalam hal ini penulis melakukan PKL di lampulo.
2.      Data sekunder
Data sekunder adalah data pendukung dari data primer. Penulis memperoleh data ini dari buku-buku referensi





















BAB IV
PELAKSANAAN KEGIATAN

4.1 Persiapan
      Sebelum berlayar diadakan persiapan-persiapan di darat,diawali dengan mepersiapkan segala kepeluan yang berhubungan dengan pengoperasian purse seine yang meliputi:
1.      Menyiapkan surat atau dokumen kapal :
a.       Surat izin berlayar
b.      Surat izin penangkapan ikan (SIPI)
c.       Daftar sijil awak kapal
d.      Dll.
2.      Menyiapkan alat dan bahan :
a.       Mengisi air tawar
b.      Mengisi persedian es
c.       Mengisi bahan bakar minyak
d.      Mengatur alat tangkap
e.       Mempersiapkan pembekalan makanan
3.      Mempersiapkan alat navigasi dan alat bantu navigasi
a.       Kompas
b.      Global position system (GPS)
c.       Radio telefon (SSB)
d.      Fish finder
4.      Mempersiapkan alat bantu lainya
a.       Keranjang
b.      Serok (scoop net)
c.       Lampu
5.      Memeriksa kondisi mesin
a.       Motor induk
-          Mengecek bahan bakar tangki induk dan tangki harian
-          Mengecek oli
-          Mengecek filter minyak/saringan minyak
-          Mengecek water coller /air pendingin
b.      Motor listrik
-          Mengecek bahan bakar motor listrik
-          Mengecek air pendingin
c.       Mengecek segala peralatan untuk memeperbaiki mesin apabila terjadi kerusakan
4.2 .   Kelengkapan Dalam Penangkapan Dan Alat Bantu Penangkapan
1. Kapal
Pengoperasian alat tangkap ini dibutuhkan unit penangkapan yaitu berupa kapal. Kapal ini berfungsi ketika pengoperasian yaitu untuk melingkarkan jaring pada gerombolan ikan. Kapal yang digunakan yaitu jenis kapal purse seine yang biasanya kapal ini terbuat dari bahan kayu. Untuk ukuran kapal ini cukup relatif tergantung dari skala penangkapan mulai dari yang ukurannya kecil antara 10-30 GT dengan kekuatan mesin 20 HP, ukuran sedang antara 30-50 GT dengan kekuatan mesin 120 HP, hingga ukuran yang besar 50-100 GT dengan kekuatan mesin 300-360 HP (Ayodyoa, 1975).





Gambar.1. Kapal purse seine lampulo
2. Nelayan
Unit penangkapan ikan salah satunya adalah nelayan dan ini hal yang paling penting. Dalam pengoperasian alat ini jumlah nelayan yang dibutuhkan sebanyak 10 sampai 20 orang tergantung dari skala penangkapannya. Pembagian tugas dari masing-masing ABK yaitu satu orang sebagai navigator, satu orang sebagai pengemudi kapal, satu orang sebagai kapten dan sisanya sebagai pengoperasi alat tangkap tersebut (Subani dan Barus, 1989).
3. Cahaya Lampu
Menurut Brant (1984) Light Fishing atau penangkapan ikan dengan cahaya adalah suatu bentuk dari umpan yang berhubungan dengan mata ( Optical Bait) yang digunakan untuk menarik dan mengumpulkan ikan. Light Fishing oleh Brant (1984) diklasifikasikan kedalam kelompok Attracting Concentrating And Fringhting Fish, karena dalam hal ini cahaya di gunakan untuk mengumpulkan (Concentrating) ikan pada suatu daerah tertentu sehingga mudah untuk dilakukan operasi penangkapan.
Lampu digunakan pada saat pengoperasian malam hari, fungsinya sama seperti rumpon yaitu sebagai pengumpul ikan. Biasanya nelayan menggunakan sumber lampu ini dari ancor atau obor, petromaks, dan lampu listrik (penggunaannya masih sangat terbatas hanya untuk usaha penangkapan sebagian dari perikanan industri) (Subani dan Barus, 1989).
Ikan-ikan itu tertarik oleh cahaya lampu kiranya tidak terlalu dipermasalahkan sebab adalah sudah menjadi anggapan bahwa hampir semua organisme hidup termasuk ikan yang media hidupnya itu air terangsang (tertarik) oleh sinar / cahaya (phototaxis positif) dan karena itu mereka selalu berusaha mendekati asal / sumber cahaya dan berkumpul disekitarnya.
Lampu petromaks umumnya memiliki kekuatan cahaya 200 lilin atau sekitar 200 watt. Terdapat dua jenis lampu yang digunakan oleh nelayan yaitu lampu petromaks dengan bola gelas yang berada pada bagian bawah dan tabung lampu yang berada di atas, sedangkan yang satu lagi adalah petromaks dengan tabung minyak pada bagian bawah dan lampu berupa kaos lampu pada bagian atas. Fungsi daripada Alat Bantu ini yaitu agar ikan-ikan tertarik pada suatu objek cahaya dan berkumpul dalam suatu gerombolan atau kelompok. Spesifikasi cahaya lampu petromaks umumnya dipengaruhi oleh cahaya bulan. Oleh karena itu, biasanya lampu petromaks tidak efisien jika digunakan pada saat terang bulan (purnama). Keadaan ini disebabkan karena pada kondisi demikian ikan-ikan akan cenderung menyebar di dalam kolom air dan tidak naik ke atas permukaan air. Pada saat terang bulan umumnya nelayan-nelayan yang menggunakan atraktor lampu sebagai alat penarik ikan, tidak melakukan operasi penangkapan ikan (Gunarso, 1985).
4.3 .   Daerah Pengoperasian Alat Tangkap Purse Seine
Pada umumnya dalam pengoperasian purse seine dikenal dua cara yaitu (1) purse seine dioperasikan dengan mengejar gerombolan ikan, hal ini biasanya dilakukan pada siang hari; (2) menggunakan alat Bantu penangkapan seperti rumpon, cahaya dan fish finder.  Hal ini dapat dilakukan pada siang hari dan malam hari.
Purse seine dapat digunakan pada fishing ground dengan kondisi yang  spring layer of water temperature adalah areal permukaan laut, jumlah ikan berlimpah dan bergerombol pada area permukaan air dan kondisi laut dalam keadaan bagus dan tenang. Kedalaman perairan yang dapat di operasiakan alat purse seine yaitu 15m-50m dari permukaan laut tergantung besarnya alat tangkap tersebut. Purse seine banyak dioperasiakan di aceh di daerah lampulo dan idi.
Untuk daerah penangkapan di lampulo sendiri saat mahasiswa melakukan praktek kerja lapangan fishing groud berada di daerah pulau breuh dan pulau nasi.






Gambar.2.Lokasi Fishing Groud
4.4 Metode Pengoperasian Alat Tangkap Purse Seine
Pada operasi malam hari, mengumpulkan/menaikkan ikan ke permukaan laut dilakukan dengan menggunakan cahaya. Biasanya dengan fish finder bisa diketahui depth dari gerombolan ikan, juga besar dan densitasnya. Setelah posisi ini tertentu barulah lampu dinyalakan (ligth intesity) yang digunakan berbeda-beda tergantung pada besarnya kapal, kapasitas sumber cahaya. Juga pada sifat phototakxisnya ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Setelah fishing schoal diketemukan perlu diketahui pula swimming direction, swimming speed, density ; hal-hal ini perlu dipertimbangkan lalu diperhitungkan pula arah, kekuatan, kecepatan angin, dan arus, sesudah hal-hal diatas diperhitungkan barulah jaring dipasang. Penentuan keputusan ini harus dengan cepat, mengingat bahwa ikan yang menjadi tujuan terus dalam keadaan bergerak, baik oleh kehendaknya sendiri maupun akibat dari bunyi-bunyi kapal, jaring yang dijatuhkan dan lain sebagainya. Tidak boleh luput pula dari perhitungan ialah keadaan dasar perairan, dengan dugaan bahwa ikan-ikan yang terkepung berusaha melarikan diri mencari tempat aman (pada umumnya tempat dengan depth yang lebih besar) yang dengan demikian arah perentangan jaring harus pula menghadang ikan-ikan yang terkepung dalam keadaan kemungkinan ikan-ikan tersebut melarikan diri ke depth lebih dalam.
Metode Pengoperasian Alat Tangkap Purse Seine ini adalah kegiatan penangkapan ikan  yang dilakukan dengan melingkari ikan yang telah terpokus dengan cahaya lampu dengan menggunakan kapal induk. Sesuai nahkoda kapal mengisyaratkan dalam kegiatan penangkapan. pengoperasian alat tangkap di perlukan tehnik penangkapan ikan. Sebelum alat tangkap diturunkan terlebih dahulu melihat kondisi cuaca, seperti arus, dan gelombang disesuaikan dengan alat tangkap yang akan di turunkan kedalam perairan. setelah dilihat tidak mengalami kesulitan maka kegiatan penangkapan dengan alat tangkap purse seine dapat dioperasikan.
Pada saat praktek kerja lapangan sendiri proses setting dilakukan dengan dimulai penurunan alat tangkap,Pada saat penurunan alat tangkap yang pertama kali dilakukan adalah ujung tali kerut diberikan kepada kapal tarik (ayuda) kemudian kapal tarik menarik ujung tali itu, setelah itu kapal jaring atau kapal penangkap melingkari kapal lampu, setelah pelingkaran selesai maka ujung tali kerut atau tali kolor diambil dan ditarik kehaluan kapal dan setelah tali kerut atau tali kolor sudah seimbang maka tali kerut dililitkan pada gardan. Kemudian mesin gardan dihidupkan untuk menggerakkan gardan.
Pengamatan alat tangkap purse seine, pada saat dioperasikan memerlukan waktu setting  dan hauling, dalam pengoperasian penangkapan ikan, maka hal-hal yang harus di perhatikan dalam menangkap ikan adalah sebagai berikut:
1.         Persiapan setting
1.         Keadaan kapal dalam keadaan tenang tidak sedang mengalami kegiatan.
Lampu yang terdapat pada bagian kapal  bagian haluan kapal dan buritan kapal harus di padamkan.
2.      Setelah lampu yang berada pada bagian kapal induk telah dipadamkan, seorang ABK kapal bertugas menyalakan lampu patromaks 2 unit yang terletak diperahu kacil atau padomba, yang berfungsi sebagai pemikat daya ingat ikan terhadap sinar cahaya tetap terpokus.
3.      Setelah ABK menyalakan lampu  patromaks  pada perahu kecil atau padomba, maka ia memberikan satu isyarat untuk dapat mengoprasikan alat tangkap purse seine dengan kapal induk, dengan melingkarkan padomba tersebut.
4.      Pada saat ABK telah memberikan isyarat maka kapal induk siap melingkarkan padomba tersebut tanpa lampu neon di hidupkan, salah seorang ABK bertugas membuang jaring purse seine dengan berselang waktu 5 detik, jarak buangan jaring purse seine,
5.      Setelah kapal sudah lengkap melingkarkan alat tangkap purse seine, tali pemberat sudah diturunkan, yang berfungsi menyatukan ke dua ujung tali ris dan telah membentuk kantong, maka lampu penerang/neon dapat di nyalakan guna penarikan jaring berlansung baik.
6.      Saat setting memerlukan waktu 2 Menit–50 Menit








Gambar.3. Proses Setting Alat Tangkap
(sumber. http://perikanandankelautannasional.blogspot.co.id)
2.Persiapan hauling
Hal-hal yang harus diperhatikan saat hauling adalah sebagai berikut :
1.      Pada saat penarikan, mesin kapal dalam keadaan mati.
2.      Setelah jaring telah melingkar dan telah membentuk sebuah kantong, maka pemberat jaring di tarik dengan alat bantu penangkapan ikan dengan menggunakan line holler atau mesin   ( mesin gardan )
3.      Setelah pemberat telah berada diatas kapal, maka ABK melakukan hauling secara bersama-sama.
4.      Pada saat penarikan jaring sebagian orang berada di sebelah lambung kanan, jika pada penarikan terdapat pada lambung kiri kapal, dimana keseimbangan kapal tetap stabil, dikarenakan tekanan air atau volume air pada alat tangkap jaring purse seine bertambah
5.      Penarikan jaring dilakukan secara bersaman agar kestabilan jaring tetap sama pada saat menarik.
6.      Saat menarik di perlukan tempat untuk jenis-jenis ikan yang tertangkap.
7.      Pada saat sudah terlihat kantong jaring, maka sebagian ABK, mengambil atas jaring dan menggantungkan jaring pada bagian samping kapal induk dengan tujuan untuk menghindarkan ikan yang tertangkap tidak dapat lepas atau lolos.
8.      Setelah jaring di gantungkan ABK dapat menggunakan alat bantu serok, untuk mengurangi beban jaring, menghindarkan jarik mengalami kerusakan.
9.      Penarikan jaring membutuhkan waktu 56 menit,29 Detik.





Gambar.4. Proses hauling
Melingkari gerombolan ikan dengan jaring adalah dengan tujuan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri dalam arah horisontal. Sedang dengan menarik purse line adalah untuk mencegah ikan-ikan supaya ikan-ikan jangan dapat melarikan diri ke bawah. Antara dua tepi jaring sering tidak dapat tertutup rapat, sehingga memungkinkan menjadi tempat ikan untuk melarikan diri. Untuk mencegah hal ini, dipakailah galah, memukul-mukul permukaan air dan lain sebagainya. Setelah purse line selesai ditarik, barulah float line serta tubuh jaring (wing) dan ikan-ikan yang terkumpul dipindahkan ke atas kapal. Jika terlalu lama maka peluang keberhasilan mendapatkan ikan yang banyak sangat kecil (Nedelec, 2000).
Setelah penarikan jaring  telah berakhir  maka jenis-jenis ikan  yang tertangkap oleh hasil tangkapan alat tangkap purse seine,  maka dikumpulkan pada boks atau wadah yang telah tersedia. Adapun hasil tangakapan yang  tidak memiliki nilai ekonomis maka para ABK lansung membagi hasil tangkapan ikan tersebut. keberhasilan penangkapan ikan terlihat dari kondisi tujuan penangkapan ikan, juga alat bantu penangkapan ikan yang maju dan lengkap  karena merupakan hal pendukung utama dari kegiatan pengoperasian, serta bagaimana seorang nahkoda memberikan arah dalam penangkapan ikan.


4.5  Hasil Tangkapan
Ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan dari purse seine adalah ikan-ikan yang “Pelagic Shoaling Species”, yang berarti ikan-ikan tersebut haruslah membentuk shoal (gerombolan), berada dekat dengan permukaan air sea surface dan sangatlah diharapkan pula agar densitas shoal itu tinggi, yang berarti jarak antara ikan dangan ikan lainnya haruslah sedekat mungkin. Dengan kata lain dapat juga dikatakan per satuan volume hendaklah jumlah individu ikan sebanyak mungkin. Hal ini dapat dipikirkan sehubungan dengan volume yang terbentuk oleh jaring (panjang dan lebar) yang dipergunakan. Jenis ikan yang ditangkap dengan purse seine terutama di daerah Jawa dan sekitarnya adalah : Layang (Decapterus sp), bentang, kembung (Rastrehinger sp) lemuru (Sardinella sp), slengseng, cumi-cumi (Loligo sp) dan lain-lain (Subani dan Barus, 1989).
Sedangkan disaat mahasiswa melakukan Praktek kerja lapangan hasil tangkapan yang di dapat hanya berupa ikan layang (Decapterus sp) kembung (Rastreliger sp) dan lemuru ( Sardinella sp).


 





Gambar.5.Hasil Tangkapan





BAB V
PENUTUP
5.1.  Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut
1. Purse seine (pukat cincin) digunakan untuk menangkap ikan yang bergerombol (schooling)di permukaan laut. Ikan yang tertangkap dengan alat penangkapan purse seine adalah jenis-jenisikan pelagis kecil yang hidupnya bergerombol antara lain Layang, Selar, Lemuru, Kembung,Tongkol, dan Tembang. Ikan tersebut tertangkap oleh purse seine karena gerombolan ikan tersebut dikurung oleh jaring yang telah membentuk kantong.
2. Purse seine adalah alat penangkapan ikan yang berbentuk kantong dilengkapi dengan cincin dan tali Purse Line yang terletak dibawah tali ris bawah yang berfungsi menyatukan bagian bawah jaring sewaktu operasi dengan cara menarik tali Purse Line tersebut sehingga jaring membentuk kantong.
3. Pada umumnya dalam pengoperasian purse seine dikenal dua cara yaitu (1) purse seine dioperasikan dengan mengejar gerombolan ikan, hal ini biasanya dilakukan pada siang hari; (2) menggunakan alat Bantu penangkapan seperti rumpon, cahaya dan fish finder.  Hal ini dapat dilakukan pada siang hari dan malam hari.
4. Pemilihan alat bantu penanggkapan ikan dalam suatu operasi penangkapan haruslah disesuaikan antara alat bantu penangkapan ikan tersebut dengan karakteristik alat tangkapnya. Disamping itu, penetapan jenis alat bantu penangkapan ikanya harus pula disesuaikan dengan penempatan dan kegunaannya. Hal ini penting agar operasi penanggkapan ikan dapat efektif dan berjalan lancar sesuai dengan yang kita inginkan.
5.  Metode Pengoperasian Alat Tangkap Purse Seine ini adalah kegiatan penangkapan ikan  yang dilakukan dengan melingkari ikan yang telah terpokus dengan cahaya lampu dengan menggunakan kapal induk.

5.2.        Saran
            Saran dari penulis  dalam proses pengoperasian alat tangkap purse seine dibutuhkan tenaga ahli dalam bidang nya masing-masing untuk dapat berhasil dalam proses pengoperasiannya.



















DAFTAR PUSTAKA
Ayodyoa, 1975. Kapal Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.http://idWikipedia.org/wiki/
Nedelec. 2000. FISH LAMPS. Japanese Fishing Gear and Methods Textbook for Marine FisheriesResearch Course. Japan. (terhubung berkala) http:// fisheries.com/index.html
Subani, 1983. Penggunaan Lampu Sebagai Alat Bantu Penagnkapan Ikan laporan penelitian perikanan laut no. 27. Balai penelitian perikanan laut. Departemen pertanian. Jakarta
Subani,W dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia Jurnal Penelitian Perikanan Laut Nomor : 50 Tahun 1988/1989. Edisi Khusus. Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian
Von Brandt, A. 1984. Fish Catching Methods of the World. Fishing News Books Ltd. London
Waluyo Subani dan H.R Barus.1989.Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta


Komentar

Postingan populer dari blog ini

laporan pkl "pole and line"

USAHA PENANGKAPAN IKAN DENGAN ALAT TANGKAP POLE AND LINE PADA KM. SARI USAHA 07 DI PERAIRAN BITUNG,SULAWESI UTARA LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) DI SUSUN O L E H BAHARI NIS : 100.1.11.012 PROGRAM STUDY : NAUTIKA PERIKANAN LAUT SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH NEGERI LADONG BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BAB I PENDAHULUAN 1.1  Latar belakang             Sulawesi Utara, khususnya Bitung merupakan salah satu tempat produksi perikanan yang ada di belahan timur Indonesia, dimana tempat ini memiliki dermaga perikanan yang baik sekaligus tempat pelelangan ikan yang strategis. Dengan kondisi dinamis tersebut, maka kami taruna diberi kesempatan untuk turun langsung dilapangan dan bersosialisasi dengan pengelolah perikanan dalam hal ini nelayan untuk men...

laporan pratikum oseanografi umum

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar belakang Oseanografi adalah ilmu yang mempelajari tentang perairan laut, yang mencakup pengetahuan tentang faktor biotik dan abiotik serta interaksi yang terjadi diantaranya. Perairan laut adalah suatu badan air yang berhubungan dengan lautan. Untuk mengetahui apakah terdapat suatu keseimbangan antara factor biologi dan habitatnya, yaitu organisme dengan factor – factor fisika dan kimia suatu perairan serta kondisi fisik alam dalam perairan diperlukan pengetahuan tentang ukuran factor – factor tersebut secara kualitatif dan kuantitatif.( Asdak,2002) Beberapa factor lingkungan penentu perairan diperanguhi pengelolaan dan kelansungan hidup, kondisi fisik alam, pertumbuhan, atau reproduksi organism akuatik dapat dilihat dari sifat fisika, kimia dan biologi perairan. Namun disini kita akan membahas tentang factor fisika dan kimia perairan. Factor kimia meliputi : Salinitas dan PH sedangkan factor fisika meliputi : Pasang surut, gelombang, arus,keceraha...