Langsung ke konten utama

laporan pratikum oseanografi umum

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Oseanografi adalah ilmu yang mempelajari tentang perairan laut, yang mencakup pengetahuan tentang faktor biotik dan abiotik serta interaksi yang terjadi diantaranya. Perairan laut adalah suatu badan air yang berhubungan dengan lautan.
Untuk mengetahui apakah terdapat suatu keseimbangan antara factor biologi dan habitatnya, yaitu organisme dengan factor – factor fisika dan kimia suatu perairan serta kondisi fisik alam dalam perairan diperlukan pengetahuan tentang ukuran factor – factor tersebut secara kualitatif dan kuantitatif.( Asdak,2002)
Beberapa factor lingkungan penentu perairan diperanguhi pengelolaan dan kelansungan hidup, kondisi fisik alam, pertumbuhan, atau reproduksi organism akuatik dapat dilihat dari sifat fisika, kimia dan biologi perairan. Namun disini kita akan membahas tentang factor fisika dan kimia perairan.
Factor kimia meliputi : Salinitas dan PH sedangkan factor fisika meliputi : Pasang surut, gelombang, arus,kecerahan dan suhu
Kegiatan pratikum lapangan kepada mahasiswa merupakan salah satu solusi dalam menciptakan generasi yang unggul.dengan adanya penelitian dan pengajaran secara langsung ini diharapkan mahasiswa dapat mandiri dalam menglola potensi perikanan dan kelautan diwilayah pantai barat selatan.
2. Tujuan dan manfaat
Praktikum kali ini bertujuan menganalisa dan mengenal parameter apa saja yang menjadi penentu ukuran kualitas dari suatu perairan terutama pada perairan yang sudah ditentukan sebagai lokasi praktikum.
Sedangkan manfaatnya ialah agar para mahasiswa(i) atau praktikan dapat mengetahui kondisi fisik pada suatu perairan dan juga dapat menghitung nilai parameter fisika dan kimia di perairan tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Parameter Fisika
 Pasang Surut
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi bumi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan kearah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara lansung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar dari pada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut kearah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumidan bidang orbital bulan dan matahari. ( www.oseanografi.blogspot.com )
Terdapat tiga tipe pasang surut yang didasarkan pada periode dan keteraturannya, yaitu :
• Pasang surut harian (diurnal)
• Pasang surut tengah harian (semi diurnal)
• Pasang surut campuran ( mixed tides)
Dalam sebulan variasi harian rentang pasang surut berubah secara sistematis terhadap siklus bulan. Rentang pasang surut juga tergantung pada bentuk perairan dan konfigurasi lantai samudera.  (www.wikipedia.org).
 Kecerahan
Kecerahan suatu perairan menetukan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus suatu perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat berlansung sempurna. Kecerahan yang mendukung apabila Seichi disk mencapai 20-40 cm dari permukaan. ( Chakroff dalam Syukur,2002)
Kecerahan merupakan ciri penentu untuk pencerahan,penglihatan yang mana suatu sumber dilihat memancarkan sejumlah kandungan cahaya.dalam kata lain kecerahan adalah pencerahan yang terhasil dari pada kekilauan sasaran penglihatan,kecerahan merupakan suatu ukuran dimana cahaya didalam air yang disebabkan oleh adanya partikel-partikel kaloid dan suspensi dari suatu bahan pencemaran,antara lain bahan organic dari buangan-buangan industry,rumah tangga,pertanian yang terkandung di perairan.


 Arus
Arus adalah pergerakan massa air secara horizontal yang disebabkan oleh angin yang bertiup terus menerus dipermukaan dan densitas air. ( Sidjabat,1976 )
Menurut Hadikusumah (1988) Menyatakan system sehingga menuju arus atau pola sirkulasi merupakan salah satu aspek dinamika air yang sangat penting karena berpengaruh terhadap lingkungan disekitarnya. Misalnya terdapat sebaran biologi, kimia, polusi dan sedimen.
Arus juga merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dikarenakan tiupan angin atau perbedaan densitas/pegerakan gelombang panjang (Nontji,1987).
Pergerakan arus dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain arah angin,perbedaan tekanan air,perbedaan densitas air,gaya coriolis dan arus ekman,topografi dasar laut,arus permukaan,opweling dan downwelling.
Menurut Sahala Hutabarat (1986) Selain angin, arus dipengaruhi oleh paling tidak tiga factor yaitu,:
1. Bentuk topografi dasar lautan dan pulau-pulau yang ada disekitarnya.
2. Gaya coriollis dan arus ekman.
3. Perbedaan densitas serta upwelling dan singking.
Adapun jenis-jenis arus dibedakan menjadi dua bagian yaitu :
1. Berdasarkan penyebab terjadinya
• Arus ekman yaitu arus yang di pengaruhi oleh angin.
• Arus termohaline yaitu arus yang dipengaruhi oleh densitas dan gravitasi.
• Arus pasut yaitu arus yang dipengaruhi oleh pasut.
• Arus geostropik yaitu dipengaruhi oleh gradient tekanan mendatar dan gaya coriollis.
2. Berdasakan kedalaman
• Arus permukaan yaitu terjadinya beberapa ratus meter dari permukaan,bergerak dengan arah horizontal dan dipengaruhi oleh sebaran angin.
• Arus dalam yaitu terjadi jauh didasar kolam perairan arah pergerakan tidak dipengaruhi oleh pola sebaran angin dan membawa massa air dari daerah kutub kedaerah ekuator
2.2 Parameter Kimia
 Salinitas
Salinitas adalah tingkat keasinan kadar garam terlarut dalam air,salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah .tetapi secara ideal,salinitas ini merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam garam pada setiap kilogram air laut.secara praktis,adalah susah untuk mengukur salinitas dilaut,oleh karena itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida (ci).kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram Ion klorida satu kilogram air laut dan jika semua halogen digantikan oleh klorida.
Kandungan garam pada sebagian besar danau,sungai,dan saluran air alami sangat kecil sehingga air ditempat ini dikatagorikan sebagai air tawar.kandungan garam sebenarnya pada air ini,secara difinisi kurang dari 0,055% dan jika lebih dari itu,air dikatagorikan sebagai air payau/menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5% lebih dari 5% ia disebut brine.
BAB III METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
   Pratikum ini dilaksanakan pada tanggal 05 desember 2015 pada hari sabtu jam 14,15 wib, pada lokasi bertempat di labuhan bajau kecamatan tepah selatang kabupaten simeulu,

3.2 Bahan dan Alat
Pada Praktikum Osseanografi ini, alat-alat yang digunakan adalah
v  Seichi disk untuk mengukur kecerahan
v  Papan silang dan Stopwacht untuk mengukur arus
v  Refraktometer untuk mengukur salinitas
v  Kayu Meteran untuk mengukur Pasang surut
3.3 Metode Pratikum
1.      Salinitas
Alat: refraktometer, pipet, tisu, dan kalkulator. Bahan: air tawar dan air laut

Metode pengukuran:
  1. Buka penutup kaca refraktometer. Ambil beberapa tetes air dengan menggunakan pipet tetes, teteskan pada bagian atas kaca refraktometer (prisma) sampai memenuhi seluruh bagian prisma.
  2. Lalu tutup kacanya pelan-pelan dengan penutup prisma.
  3. Pada saat ditutup, seluruh air contoh harus menutupi prisma.
  4. Arahkan prisma refraktometer menghadap cahaya yang cukup terang. Lihat perubahan salinitas melalui lensa yang terletak pada bagian belakang refraktometer.
  5. Nilai salinitas ditunjukkan pada suatu skala yang ditunjukkan oleh suatu garis perbatasan antara warna biru dan putih pada refraktometer. Nilai salinitas terlatek di sebelah kanan skala dengan satuan ‰.
  6. Bila selesai mengukur salinitas, maka buka penutup prisma refraktometer, lalu bilas prisma dan bagian dalam penutupnya dengan air tawar dengan posisi prisma miring ke depan. Setelah itu prisma dan bagian dala penutup dilap dengan menaruh tisu di atas prisma lalu ditutup dengan penutup prisma, sehingga tisu diapit diantara prisma dan penutup prisma. Pada posisi tertutup tersebut, tarik pelas-pelan menjauhi refraktometer. Ulangi lagi bila prisma dan penutupnya belum kering.
  7. Pada pengambilan selanjutnya, sebelum sampel ditaruh pada prisma, sampel air diambil dan dibuang berkali-kali dengan menggunakan pitpet sehingga pipet tersebut diharapkan bebas dari pengaruh salinitas sebelumnya.
  8. Pada daerah estuari dan laut di titip/lokasi/statiun yang sama, ukur salinitas setiap 30 menit.
  9. PERHATIAN! Bagian yang boleh terkena air hanya bagian prisma dan bagian dalam penutupnya, selain dari bagian-bagian itu tidak boleh terkena air.








                                                               


2.      Kedalaman perairan
Alat: tali berskala, pemberat, busur derajat, dan kalkulator. Bahan: air laut

Metode pengukuran:
  1. Pemberat (●) diikat dengan tali berskala (r). Pada bagian atas dihubungkan dengan bagian titik pusat busur derajat. Pada titik yang sama dari busur tersebut dihubungkan dengan tali pendek (x) yang telah diberi pemberat (●).
  2. Pengukuran diusahakan dilakukan pada saat perairan tenang dan cuaca yang cerah.
  3. Pemberat diturunkan sampai menyentuh dasar periaran, pada saat itu tali dalam keadaan kendur. Tarik tali pelan-pelan secara halus sampai tali tereasa tegang. Saat pertama kali tali terasa tegang, maka hal tersebut menunjukkan pemberat telah berada di dasar perairan dan menunjukkan kedalam perairan.
  4. Tarik lagi tali tersebut beberapa cm dari dasar perairan lalu turunkan lagi sampai menyentuh dasar.
  5. Tarik kembali tali pelan-pelan secara halus sampai tali terasa tegang. Saat pertama kali tali terasa tegang, maka hal tersebut menunjukkan pemberat telah berada di dasar perairan dan kondisi tali yang telah menjadi tegang menunjukkan kedalam perairan.
  6. Lihat sudut (α) pada busur derajat yang dibentuk antara (r) dan (x) kemudian sudut tersebut dicatat.
  7. Ukur panjang tali dari permukaan air sampai dasar perairan dengan menggunkana alat ukur panjang.
  8. Untuk mengetahui kedalaman perairan yang telah dikoreksi/sebenarnya (z), maka menggunakan faktor koreksi dimana rumusnya adalah
Faktor koreksi: cos α =
Sehingga (z) = (r) x cos α
Dimana:
(r) = panjang tali sebenarnya di bawah permukaan air (cm)
(z) = kedalaman perairan yang telah dikoreksi (cm)

α = sudut yang dibentuk antara x dan r atau antara z dan r
Pada wilayah estuari di titik/lokasi/statiun yang sama, ukur kedalaman perairan setiap 30 menit
3.      Kecerahan perairan
Alat: keping secchi (secchi disk), tali berskala interval 50 cm, pemberat, busur derajat, kalkulator. Bahan: air laut

Metode pengukuran:
  1. Bagian tengah keping secchi dihubungkan dengan tali (r). Pada bagian bawah keping diberi pemberat. Pada bagian atas dihubungkan dengan bagian titik pusat busur derajat (pertemuan antara gari 00/1800 dan 900). Pada bagian yang sama dari busur tersebut dihubungkan dengan tali pendek (x) yang telah diberi pemberat (●).
  2. Pengukuran dilakukan pada saat perairan tenang dan cuaca yang cerah. Usahan secchi tidak terhalang oleh bayangan apapun.
  3. Celupkan secchi ke dalam air sampai secchi tidak dapat dilihat. Pada saat pertama kali secchi tidak dapat dilihat, maka proses penguluran tali segera dihentikan.
  4. Lihat sudut (α) pada busur derajat yang dibentuk antara (r) dan (x) kemudian sudut tersebut dicatat.
  5. Ukur panjang tali dari permukaan air sampai secchi lalu hasil pengukuran dicatat.
  6. Setelah itu celupkan secci sampai tidak terlihat, ulurkan tali beberapa cm lebih dalam.
  7. Tarik secchi yang tidak terlihat dari kedalam tertentu ke atas sampai pertama kali keping secchi terlihat. Pada saat pertama kali secchi dapat dilihat, maka proses penarikan tali segera dihentikan.
  8. Lakukan proses d dan e.
  9. Untuk mengetahui kedalaman secchi dikoreksi/sebenarnya (z), maka menggunakan faktor koreksi dimana rumusnya adalah
Faktor koreksi: cos α =
Sehingga (z) = (r) x cos α
Dimana:
(r) = panjang tali sebenarnya di bawah permukaan air (cm)
(z) = kedalaman perairan yang telah dikoreksi (cm)
α = sudut yang dibentuk antara x dan r atau antara z dan r
  1. Untuk mengetahui secchi, maka menggunakan rumus:
SD =
 Dimana:
SD = (Secchi depth) kedalaman secchi (cm)
 Z1= jarak secchi dari permukaan air yang dicelupkan sampai batas pertama kali secchi tidak terlihat (cm)
Z2= jarak secchi dari permukaan air yang ditarik dari dasar sampai batas pertama kali secchi terlihat (cm)
  1. Untuk mengetahui persentase kecerahan perairan, maka menggunakan rumus:
%SD =
Dimana:
%SD=  persentase kecerahan kedalaman secchi (%)
SD = (Secchi depth) kedalaman secchi (cm)
Zd= kedalaman dasar perairan yang diukur dari lapisan permukaan perairan (cm)
Pada daerah estuari dan laut di titik/lokasi/stasiun yang sama, ukur kecerahan air setiap 30 menit.
4.      Kecepatan dan arah arus permukaan perairan
Alat: botol air plastik ukuran volume 1,5 lt, tongkat kayu dengan panjang 1m, bola pingpong, pemberat, tali berskala, stopwatch, kompas, busur derajat, dan kalkulator. Bahan: air laut

Metode pengukuran:
  1. Masukkan pasir atau batu kedalam botol air sampai bila botol tersebut dicelupkan kedalam air, hanya dari mulai bagian leher botol atau tutupnya yang terlihat di atas permukaan air. Cara lain, ikat pemberat pada tongkat sampai bila dimasukkan ke dalam air, tongkat yang muncul hanya sekitar 10 cm diatas permukaan air. Cara lain, masukkan sedikit air ke dalam bola pingpong. Setelah itu botol/tongkat/bola tersebut diikat tali berskala. Pada baian atas tali dihubungkan dengan busur derajat yang telah diberi pemberat (●).
  2.  Bila air mengalir dari sebelah kiri ke arah kanan pengamat, maka taruh botol/tongkat/bola tersebut sekitar 1m sebelah kiri pengamat, demikian juga sebaliknya. Tali dalam posisi dikendurkan (diulur).
  3. Pada saat menaruh botol/tongkat/bola, jangan dilakukan dengan melempar ke dalam air, namun taruh secara pelah.
  4. Pada saat botol/tongkat/bola berada tepat di hadapan pengamat, maka nyalakan stopwatch sementara tali botol/tongkat/bola terbawa beberapa meter ke sebelah kanan pengamat. Setelah botol/tongkat/bola terbawa beberapa meter ke sebelah kanan pengamat, maka hentikan penguluran tali, lalu tunggu sampai tali tersebut cukup tegang.
  5. Pada saat pertama kali tali menjadi tegang, maka stopwatch langsung dihentikan.
  6. Ukur panjang tali (r), ukur sudut yang dibentuk antara tali dengan pengamat (α), kemudian dicatat.
  7. Untuk mengetahui jarak sebenarnya yang ditempuh botol/tongkat/bola, gunakan faktor koreksi, dimana rumusnya adalah
Faktor koreksi: sin α =
Sehingga (y) = (r) x sin α
Dimana:
(r) = panjang tali dari tangan pengamat sampai permukaan air (cm)
(y) = panjang tali yang sudah terkoreksi (jarak dari pengamat sampai tempat dimana botol  (cm)
α = sudut yang dibentuk antara y dan r
  1. Rumus kecepata, y diubah menjadi s. Untuk mengetahui kecepatan arus, menggunakan rumus:
V=
Dimana:
V= kecepatan (m/dtk)
s= jarak tempuh dari pengamat sampai tempat dimana botol beraada (m)
t= waktu tempuh pergerakan botol dari pengamat sampai jarak tertentu (dtk)
  1. Untuk mengetahui arah arus, bidik kompas pada botol/tongkat/bola, lalu lihat angka derajat pada kompas.
  2. Pada daerah estuari dan laut di titik/lokasi/stasiun yang sama, ukur kecepatan dan arah arus setiap 30 menit


5.      Pasang surut
Alat: tongkat/papan berskala/palem dengan panjang minimal 1,5 meter, selang bening. Bahan: air laut

Metode pengukuran:
  1. Tempelkan/ikat selang pada papan berskala.
  2. Tancapkan papan berskala pada dasar perairan yang cukup tengan dengan posisi papan tegak lurus dasar perairan.
Amati naik turunnya dengan melihat air yang ada dalam selang dan sejajar dengan skala pada papan tersebut. Ukur setiap 30 menit. Catat waktu pengamatan dan tinggi muka air tersebut.





BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
NO
PARAMETER
SATUAN
jam
PENGAMBILAN DATA 1
PENGAMBILAN DATA 2
PENGAMBILAN DATA 3
KET
1
Salinitas

PPT
14 : 30 dan
14 : 33
(wib)
31
35
-
-
2
Pasang Surut
CM
14 :54
sd
15:36
195
190
180
15 menit sekali
3
Kecerahan

M
15 :37
100 %
-
-

4
Kecepatan Arus

M/S
14:40
Sd
15:30
25:51
26 :30
27:22
30 menit sekali
Tabel.1 hasil pratikum
4.1 Keadaan umum lokasi
Lokasi laut labuhan bajau terletak dibagian pulau sinabang/siemeulu,pulau simanaha yang memiliki topografi pegunungan dan langsung berhubung dengan laut.kota senabang/siemeulu,


 




Gambar,7 lokasi labuhan bajau kec.tepah selatan

4.2 Kualitas fisika dan kimia perairan
 Salinitas
Salinitas perairan yang diproses dalam perairan air laut didesa /labuhan bajau
hasil dari waktu pengabilan data 1 dan 2 adalah antara 31 sd 35 PPT, pengambilan data dilakukan dua kali, di waktu yg tidak telalu jauh, dan lokasi yg sedikit berbeda,
hasil pengambilan data pertama sedikit berbeda dengan pengambilan data yang kedua, ini di sebabkan karena pengambilan data pertama di perhitungkan masih bercampur dengan air tawar,
 Kecerahan
Pada pengukuran kecerahan dengan mengunakan secchidick di dapatkan kecerahan masih seratus persen dikarenakan air si labuhan banjau masih sangat jernih,

 Kecepatan arus
Nilai kecepatan arus diperoleh dengan diadakannya 3 kali pengukuran ,
 Kecepatan arus rata-rata arus dipantai busong 0,8 m/s.arah arus ,kecepatan dan arah arus dipengaruhi oleh beberapa factor seperti angin dan hambatan arus.,
 pasang surut
Pengambilan data pasang surut di lakukan  3 kali di lokasi yang sama,pada pengkuran pertama di lakukan pada jam 15:54  dengan pasang air laut adalah 195 cm, dan data kedua di ambil pada pukul 15:10 dengan pasang air laut turun ke 190 cm dan pengambilan data ke 3 pada jam 15:56 Dengan pasang air laut adalah 180 cm.



BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan percobaan mengenai kondisi perairan yang dilihat dari parameter fisika dan kimia, perairan laut labuhan bajau baik untuk tumbuhnya mikroorganisme. dimana parameter fisika dan kimia masih dalam kisaran normal.
5.2 Saran
• Dalam melakukan pratikum yang akan datang sebaiknya pengukuran suhu  dan gelombang  harus diadakan pengukuran nya untuk melengkapi pratikum.



DAFTAR PUSTAKA
o Asdak, C,2002, Hidrologi dan Pengelolaan Aliran sungai, Gadjah Mada, UniversityPress. Yogyakarta, 618, Hal
o (anonym), 2009 microsopic viewof oseanografi. www.google.co.id
(dikunjungi pada tanggal 06 januari 2010)
o (anonym), 2009 microsopic viewof oseanografi. www.wikipedia.com
(dikunjungi pada tanggal 06 januari 2010)
o Effendi, H., 2003. Telaah Kualitas Air. Penerbit Kanius. Yogyakarta. 258 Hal
o Hadikusumah, P. 1988. Kondisi Arus Pasang Surut Diperairan Ujung Watu Jeparadalam Proseding seminar EkologiLaut dan Pesisir I. Puslitbang LIPI dan Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI).
o ∆ Liedis,E.L (1980).The practical salinity scale (1978) and Its antecedents. 1EEE j.Ocean.Eng, OE-5 (1) : 3-8.
o ∆ Unesco (1981 a). The Practical salinity scale (1978) and The International Eguation of stale of seawater (1980).Tech.pap.marsci.36 : 25 pp



                                                                                                                    




LAMPIRAN
A.    Lampiran gambar




                                     (Gambar.pengukuran salinitas)






(Gambar pengukuran kecepatan arus)
 





                                      (Gambar pengukuran kecerahan)
 






                                              (Gambar pengukuran pasut)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

laporan PKL perikanan purse seine lampulo

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP PURSE SEINE DI LAMPULO BANDA ACEH BAHARI 1 40590401000 9   PROGRAM STUDI PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS TEUKU UMAR MEULABOH   201 6 KATA PENGATAR   Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan proposal praktik kerja lapangan (PKL) tentang TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP PURSE SEINE.     proposal praktik kerja lapangan (PKL) ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan  ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan laporan i...

laporan pkl "pole and line"

USAHA PENANGKAPAN IKAN DENGAN ALAT TANGKAP POLE AND LINE PADA KM. SARI USAHA 07 DI PERAIRAN BITUNG,SULAWESI UTARA LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL) DI SUSUN O L E H BAHARI NIS : 100.1.11.012 PROGRAM STUDY : NAUTIKA PERIKANAN LAUT SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH NEGERI LADONG BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN BAB I PENDAHULUAN 1.1  Latar belakang             Sulawesi Utara, khususnya Bitung merupakan salah satu tempat produksi perikanan yang ada di belahan timur Indonesia, dimana tempat ini memiliki dermaga perikanan yang baik sekaligus tempat pelelangan ikan yang strategis. Dengan kondisi dinamis tersebut, maka kami taruna diberi kesempatan untuk turun langsung dilapangan dan bersosialisasi dengan pengelolah perikanan dalam hal ini nelayan untuk men...