BAB I PENDAHULUAN
1.
Latar belakang
Oseanografi
adalah ilmu yang mempelajari tentang perairan laut, yang mencakup pengetahuan
tentang faktor biotik dan abiotik serta interaksi yang terjadi diantaranya.
Perairan laut adalah suatu badan air yang berhubungan dengan lautan.
Untuk
mengetahui apakah terdapat suatu keseimbangan antara factor biologi dan
habitatnya, yaitu organisme dengan factor – factor fisika dan kimia suatu
perairan serta kondisi fisik alam dalam perairan diperlukan pengetahuan tentang
ukuran factor – factor tersebut secara kualitatif dan kuantitatif.( Asdak,2002)
Beberapa
factor lingkungan penentu perairan diperanguhi pengelolaan dan kelansungan
hidup, kondisi fisik alam, pertumbuhan, atau reproduksi organism akuatik dapat
dilihat dari sifat fisika, kimia dan biologi perairan. Namun disini kita akan
membahas tentang factor fisika dan kimia perairan.
Factor
kimia meliputi : Salinitas dan PH sedangkan factor fisika meliputi : Pasang
surut, gelombang, arus,kecerahan dan suhu
Kegiatan
pratikum lapangan kepada mahasiswa merupakan salah satu solusi dalam
menciptakan generasi yang unggul.dengan adanya penelitian dan pengajaran secara
langsung ini diharapkan mahasiswa dapat mandiri dalam menglola potensi
perikanan dan kelautan diwilayah pantai barat selatan.
2.
Tujuan dan manfaat
Praktikum
kali ini bertujuan menganalisa dan mengenal parameter apa saja yang menjadi
penentu ukuran kualitas dari suatu perairan terutama pada perairan yang sudah
ditentukan sebagai lokasi praktikum.
Sedangkan
manfaatnya ialah agar para mahasiswa(i) atau praktikan dapat mengetahui kondisi
fisik pada suatu perairan dan juga dapat menghitung nilai parameter fisika dan
kimia di perairan tersebut.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Parameter Fisika
Pasang Surut
Pasang
surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi bumi dan efek sentrifugal.
Efek sentrifugal adalah dorongan kearah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi
secara lansung dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun
ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali
lebih besar dari pada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut
karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik
gravitasi menarik air laut kearah bulan dan matahari dan menghasilkan dua
tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan
pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumidan
bidang orbital bulan dan matahari. ( www.oseanografi.blogspot.com )
Terdapat
tiga tipe pasang surut yang didasarkan pada periode dan keteraturannya, yaitu :
•
Pasang surut harian (diurnal)
•
Pasang surut tengah harian (semi diurnal)
•
Pasang surut campuran ( mixed tides)
Dalam
sebulan variasi harian rentang pasang surut berubah secara sistematis terhadap
siklus bulan. Rentang pasang surut juga tergantung pada bentuk perairan dan
konfigurasi lantai samudera. (www.wikipedia.org).
Kecerahan
Kecerahan
suatu perairan menetukan sejauh mana cahaya matahari dapat menembus suatu
perairan dan sampai kedalaman berapa proses fotosintesis dapat berlansung
sempurna. Kecerahan yang mendukung apabila Seichi disk mencapai 20-40 cm dari
permukaan. ( Chakroff dalam Syukur,2002)
Kecerahan
merupakan ciri penentu untuk pencerahan,penglihatan yang mana suatu sumber dilihat
memancarkan sejumlah kandungan cahaya.dalam kata lain kecerahan adalah
pencerahan yang terhasil dari pada kekilauan sasaran penglihatan,kecerahan
merupakan suatu ukuran dimana cahaya didalam air yang disebabkan oleh adanya
partikel-partikel kaloid dan suspensi dari suatu bahan pencemaran,antara lain
bahan organic dari buangan-buangan industry,rumah tangga,pertanian yang
terkandung di perairan.
Arus
Arus
adalah pergerakan massa air secara horizontal yang disebabkan oleh angin yang
bertiup terus menerus dipermukaan dan densitas air. ( Sidjabat,1976 )
Menurut
Hadikusumah (1988) Menyatakan system sehingga menuju arus atau pola sirkulasi
merupakan salah satu aspek dinamika air yang sangat penting karena berpengaruh
terhadap lingkungan disekitarnya. Misalnya terdapat sebaran biologi, kimia,
polusi dan sedimen.
Arus
juga merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dikarenakan tiupan angin
atau perbedaan densitas/pegerakan gelombang panjang (Nontji,1987).
Pergerakan
arus dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain arah angin,perbedaan tekanan
air,perbedaan densitas air,gaya coriolis dan arus ekman,topografi dasar
laut,arus permukaan,opweling dan downwelling.
Menurut
Sahala Hutabarat (1986) Selain angin, arus dipengaruhi oleh paling tidak tiga
factor yaitu,:
1.
Bentuk topografi dasar lautan dan pulau-pulau yang ada disekitarnya.
2.
Gaya coriollis dan arus ekman.
3.
Perbedaan densitas serta upwelling dan singking.
Adapun
jenis-jenis arus dibedakan menjadi dua bagian yaitu :
1.
Berdasarkan penyebab terjadinya
•
Arus ekman yaitu arus yang di pengaruhi oleh angin.
•
Arus termohaline yaitu arus yang dipengaruhi oleh densitas dan gravitasi.
•
Arus pasut yaitu arus yang dipengaruhi oleh pasut.
•
Arus geostropik yaitu dipengaruhi oleh gradient tekanan mendatar dan gaya
coriollis.
2.
Berdasakan kedalaman
•
Arus permukaan yaitu terjadinya beberapa ratus meter dari permukaan,bergerak
dengan arah horizontal dan dipengaruhi oleh sebaran angin.
•
Arus dalam yaitu terjadi jauh didasar kolam perairan arah pergerakan tidak
dipengaruhi oleh pola sebaran angin dan membawa massa air dari daerah kutub
kedaerah ekuator
2.2 Parameter Kimia
Salinitas
Salinitas
adalah tingkat keasinan kadar garam terlarut dalam air,salinitas juga dapat
mengacu pada kandungan garam dalam tanah .tetapi secara ideal,salinitas ini
merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam garam pada setiap kilogram
air laut.secara praktis,adalah susah untuk mengukur salinitas dilaut,oleh karena
itu penentuan harga salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang
terpenting saja yaitu klorida (ci).kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902
sebagai jumlah dalam gram Ion klorida satu kilogram air laut dan jika semua
halogen digantikan oleh klorida.
Kandungan
garam pada sebagian besar danau,sungai,dan saluran air alami sangat kecil
sehingga air ditempat ini dikatagorikan sebagai air tawar.kandungan garam
sebenarnya pada air ini,secara difinisi kurang dari 0,055% dan jika lebih dari
itu,air dikatagorikan sebagai air payau/menjadi saline bila konsentrasinya 3
sampai 5% lebih dari 5% ia disebut brine.
BAB III METODOLOGI
3.1
Waktu dan Tempat
Pratikum ini dilaksanakan pada tanggal 05
desember 2015 pada hari sabtu jam 14,15 wib, pada lokasi bertempat di labuhan
bajau kecamatan tepah selatang kabupaten simeulu,
3.2
Bahan dan Alat
Pada
Praktikum Osseanografi ini, alat-alat yang digunakan adalah
v Seichi
disk untuk mengukur kecerahan
v Papan
silang dan Stopwacht untuk mengukur arus
v Refraktometer
untuk mengukur salinitas
v Kayu
Meteran untuk mengukur Pasang surut
3.3
Metode Pratikum
1. Salinitas
Alat: refraktometer,
pipet, tisu, dan kalkulator. Bahan: air tawar dan air laut
Metode
pengukuran:
- Buka
penutup kaca refraktometer. Ambil beberapa tetes air dengan menggunakan
pipet tetes, teteskan pada bagian atas kaca refraktometer (prisma) sampai
memenuhi seluruh bagian prisma.
- Lalu tutup
kacanya pelan-pelan dengan penutup prisma.
- Pada saat
ditutup, seluruh air contoh harus menutupi prisma.
- Arahkan
prisma refraktometer menghadap cahaya yang cukup terang. Lihat perubahan
salinitas melalui lensa yang terletak pada bagian belakang refraktometer.
- Nilai
salinitas ditunjukkan pada suatu skala yang ditunjukkan oleh suatu garis
perbatasan antara warna biru dan putih pada refraktometer. Nilai salinitas
terlatek di sebelah kanan skala dengan satuan ‰.
- Bila
selesai mengukur salinitas, maka buka penutup prisma refraktometer, lalu
bilas prisma dan bagian dalam penutupnya dengan air tawar dengan posisi
prisma miring ke depan. Setelah itu prisma dan bagian dala penutup dilap
dengan menaruh tisu di atas prisma lalu ditutup dengan penutup prisma,
sehingga tisu diapit diantara prisma dan penutup prisma. Pada posisi
tertutup tersebut, tarik pelas-pelan menjauhi refraktometer. Ulangi lagi
bila prisma dan penutupnya belum kering.
- Pada
pengambilan selanjutnya, sebelum sampel ditaruh pada prisma, sampel air
diambil dan dibuang berkali-kali dengan menggunakan pitpet sehingga pipet
tersebut diharapkan bebas dari pengaruh salinitas sebelumnya.
- Pada
daerah estuari dan laut di titip/lokasi/statiun yang sama, ukur salinitas
setiap 30 menit.
- PERHATIAN!
Bagian yang boleh terkena air hanya bagian prisma dan bagian dalam
penutupnya, selain dari bagian-bagian itu tidak boleh terkena air.
2. Kedalaman perairan
Alat: tali berskala, pemberat, busur derajat, dan
kalkulator. Bahan: air laut
Metode pengukuran:
- Pemberat (●) diikat dengan tali berskala (r). Pada
bagian atas dihubungkan dengan bagian titik pusat busur derajat. Pada
titik yang sama dari busur tersebut dihubungkan dengan tali pendek (x)
yang telah diberi pemberat (●).
- Pengukuran diusahakan dilakukan pada saat perairan tenang
dan cuaca yang cerah.
- Pemberat diturunkan sampai menyentuh dasar periaran,
pada saat itu tali dalam keadaan kendur. Tarik tali pelan-pelan secara
halus sampai tali tereasa tegang. Saat pertama kali tali terasa tegang,
maka hal tersebut menunjukkan pemberat telah berada di dasar perairan dan
menunjukkan kedalam perairan.
- Tarik lagi tali tersebut beberapa cm dari dasar
perairan lalu turunkan lagi sampai menyentuh dasar.
- Tarik kembali tali pelan-pelan secara halus sampai
tali terasa tegang. Saat pertama kali tali terasa tegang, maka hal
tersebut menunjukkan pemberat telah berada di dasar perairan dan kondisi
tali yang telah menjadi tegang menunjukkan kedalam perairan.
- Lihat sudut (α) pada busur derajat yang dibentuk
antara (r) dan (x) kemudian sudut tersebut dicatat.
- Ukur panjang tali dari permukaan air sampai dasar
perairan dengan menggunkana alat ukur panjang.
- Untuk mengetahui kedalaman perairan yang telah
dikoreksi/sebenarnya (z), maka menggunakan faktor koreksi dimana rumusnya
adalah
Faktor koreksi: cos α =
Sehingga (z) = (r) x cos α
Dimana:
(r) = panjang tali sebenarnya di bawah permukaan
air (cm)
(z) = kedalaman perairan yang telah dikoreksi
(cm)
α = sudut yang dibentuk antara x dan r atau antara z dan r
Pada wilayah estuari di
titik/lokasi/statiun yang sama, ukur kedalaman perairan setiap 30 menit
3. Kecerahan perairan
Alat: keping secchi (secchi disk), tali berskala
interval 50 cm, pemberat, busur derajat, kalkulator. Bahan: air laut
Metode pengukuran:
- Bagian tengah keping secchi dihubungkan dengan tali
(r). Pada bagian bawah keping diberi pemberat. Pada bagian atas
dihubungkan dengan bagian titik pusat busur derajat (pertemuan antara gari
00/1800 dan 900). Pada bagian yang sama
dari busur tersebut dihubungkan dengan tali pendek (x) yang telah diberi
pemberat (●).
- Pengukuran dilakukan pada saat perairan tenang dan
cuaca yang cerah. Usahan secchi tidak terhalang oleh bayangan apapun.
- Celupkan secchi ke dalam air sampai secchi tidak
dapat dilihat. Pada saat pertama kali secchi tidak dapat dilihat, maka
proses penguluran tali segera dihentikan.
- Lihat sudut (α) pada busur derajat yang dibentuk
antara (r) dan (x) kemudian sudut tersebut dicatat.
- Ukur panjang tali dari permukaan air sampai secchi
lalu hasil pengukuran dicatat.
- Setelah itu celupkan secci sampai tidak terlihat,
ulurkan tali beberapa cm lebih dalam.
- Tarik secchi yang tidak terlihat dari kedalam
tertentu ke atas sampai pertama kali keping secchi terlihat. Pada saat
pertama kali secchi dapat dilihat, maka proses penarikan tali segera
dihentikan.
- Lakukan proses d dan e.
- Untuk mengetahui kedalaman secchi
dikoreksi/sebenarnya (z), maka menggunakan faktor koreksi dimana rumusnya
adalah
Faktor koreksi: cos α =
Sehingga (z) = (r) x cos α
Dimana:
(r) = panjang tali sebenarnya di bawah permukaan
air (cm)
(z) = kedalaman perairan yang telah dikoreksi
(cm)
α = sudut yang dibentuk antara x dan r atau
antara z dan r
- Untuk mengetahui secchi, maka menggunakan rumus:
SD =
Dimana:
SD = (Secchi depth) kedalaman secchi (cm)
Z1= jarak secchi dari permukaan air yang
dicelupkan sampai batas pertama kali secchi tidak terlihat (cm)
Z2= jarak secchi dari
permukaan air yang ditarik dari dasar sampai batas pertama kali secchi terlihat
(cm)
- Untuk mengetahui persentase kecerahan perairan, maka
menggunakan rumus:
%SD =
Dimana:
%SD=
persentase kecerahan kedalaman secchi (%)
SD = (Secchi depth) kedalaman secchi (cm)
Zd= kedalaman dasar
perairan yang diukur dari lapisan permukaan perairan (cm)
4. Kecepatan dan arah arus permukaan perairan
Alat: botol air plastik ukuran volume 1,5 lt,
tongkat kayu dengan panjang 1m, bola pingpong, pemberat, tali berskala,
stopwatch, kompas, busur derajat, dan kalkulator. Bahan: air laut
Metode pengukuran:
- Masukkan pasir atau batu kedalam botol air sampai
bila botol tersebut dicelupkan kedalam air, hanya dari mulai bagian leher
botol atau tutupnya yang terlihat di atas permukaan air. Cara lain, ikat
pemberat pada tongkat sampai bila dimasukkan ke dalam air, tongkat yang
muncul hanya sekitar 10 cm diatas permukaan air. Cara lain, masukkan
sedikit air ke dalam bola pingpong. Setelah itu botol/tongkat/bola
tersebut diikat tali berskala. Pada baian atas tali dihubungkan dengan
busur derajat yang telah diberi pemberat (●).
- Bila air
mengalir dari sebelah kiri ke arah kanan pengamat, maka taruh
botol/tongkat/bola tersebut sekitar 1m sebelah kiri pengamat, demikian
juga sebaliknya. Tali dalam posisi dikendurkan (diulur).
- Pada saat menaruh botol/tongkat/bola, jangan
dilakukan dengan melempar ke dalam air, namun taruh secara pelah.
- Pada saat botol/tongkat/bola berada tepat di hadapan
pengamat, maka nyalakan stopwatch sementara tali botol/tongkat/bola
terbawa beberapa meter ke sebelah kanan pengamat. Setelah
botol/tongkat/bola terbawa beberapa meter ke sebelah kanan pengamat, maka
hentikan penguluran tali, lalu tunggu sampai tali tersebut cukup tegang.
- Pada saat pertama kali tali menjadi tegang, maka
stopwatch langsung dihentikan.
- Ukur panjang tali (r), ukur sudut yang dibentuk
antara tali dengan pengamat (α), kemudian dicatat.
- Untuk mengetahui jarak sebenarnya yang ditempuh
botol/tongkat/bola, gunakan faktor koreksi, dimana rumusnya adalah
Faktor koreksi: sin α =
Sehingga (y) = (r) x sin α
Dimana:
(r) = panjang tali dari tangan pengamat sampai
permukaan air (cm)
(y) = panjang tali yang
sudah terkoreksi (jarak dari pengamat sampai tempat dimana botol (cm)
α = sudut yang dibentuk antara y dan r
- Rumus kecepata, y diubah menjadi s. Untuk mengetahui
kecepatan arus, menggunakan rumus:
V=
Dimana:
V= kecepatan (m/dtk)
s= jarak tempuh dari pengamat sampai tempat
dimana botol beraada (m)
t= waktu tempuh pergerakan botol dari pengamat
sampai jarak tertentu (dtk)
- Untuk mengetahui arah arus, bidik kompas pada
botol/tongkat/bola, lalu lihat angka derajat pada kompas.
- Pada daerah estuari dan laut di titik/lokasi/stasiun
yang sama, ukur kecepatan dan arah arus setiap 30 menit
5. Pasang surut
Alat: tongkat/papan berskala/palem dengan panjang
minimal 1,5 meter, selang bening. Bahan: air laut
Metode pengukuran:
- Tempelkan/ikat selang pada papan berskala.
- Tancapkan papan berskala pada dasar perairan yang
cukup tengan dengan posisi papan tegak lurus dasar perairan.
Amati naik turunnya dengan melihat air yang ada
dalam selang dan sejajar dengan skala pada papan tersebut. Ukur setiap 30
menit. Catat waktu pengamatan dan tinggi muka air tersebut.
BAB IV HASIL
DAN PEMBAHASAN
NO
|
PARAMETER
|
SATUAN
|
jam
|
PENGAMBILAN
DATA 1
|
PENGAMBILAN
DATA 2
|
PENGAMBILAN
DATA 3
|
KET
|
1
|
Salinitas
|
PPT
|
14
: 30 dan
14
: 33
(wib)
|
31
|
35
|
-
|
-
|
2
|
Pasang Surut
|
CM
|
14
:54
sd
15:36
|
195
|
190
|
180
|
15
menit sekali
|
3
|
Kecerahan
|
M
|
15
:37
|
100
%
|
-
|
-
|
|
4
|
Kecepatan Arus
|
M/S
|
14:40
Sd
15:30
|
25:51
|
26
:30
|
27:22
|
30
menit sekali
|
Tabel.1 hasil pratikum
4.1 Keadaan umum lokasi
Gambar,7 lokasi labuhan bajau kec.tepah
selatan
4.2 Kualitas fisika dan kimia perairan
Salinitas
Salinitas perairan yang diproses dalam
perairan air laut didesa /labuhan bajau
hasil dari waktu pengabilan data 1 dan 2 adalah
antara 31 sd 35 PPT, pengambilan data dilakukan dua kali, di waktu yg tidak
telalu jauh, dan lokasi yg sedikit berbeda,
hasil pengambilan data pertama sedikit berbeda
dengan pengambilan data yang kedua, ini di sebabkan karena pengambilan data
pertama di perhitungkan masih bercampur dengan air tawar,
Kecerahan
Pada pengukuran kecerahan dengan mengunakan
secchidick di dapatkan kecerahan masih seratus persen dikarenakan air si
labuhan banjau masih sangat jernih,
Kecepatan arus
Nilai kecepatan arus diperoleh dengan
diadakannya 3 kali pengukuran ,
Kecepatan
arus rata-rata arus dipantai busong 0,8 m/s.arah arus ,kecepatan dan arah arus
dipengaruhi oleh beberapa factor seperti angin dan hambatan arus.,
pasang surut
Pengambilan data pasang surut di lakukan 3 kali di lokasi yang sama,pada pengkuran
pertama di lakukan pada jam 15:54 dengan
pasang air laut adalah 195 cm, dan data kedua di ambil pada pukul 15:10 dengan
pasang air laut turun ke 190 cm dan pengambilan data ke 3 pada jam 15:56 Dengan
pasang air laut adalah 180 cm.
BAB
V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan percobaan mengenai
kondisi perairan yang dilihat dari parameter fisika dan kimia, perairan laut labuhan
bajau baik untuk tumbuhnya mikroorganisme. dimana parameter fisika dan kimia
masih dalam kisaran normal.
5.2 Saran
• Dalam melakukan pratikum yang akan datang
sebaiknya pengukuran suhu dan gelombang harus diadakan pengukuran nya untuk
melengkapi pratikum.
DAFTAR PUSTAKA
o Asdak, C,2002, Hidrologi dan Pengelolaan
Aliran sungai, Gadjah Mada, UniversityPress. Yogyakarta, 618, Hal
o (anonym), 2009 microsopic viewof
oseanografi. www.google.co.id
(dikunjungi pada tanggal 06 januari 2010)
o (anonym), 2009 microsopic viewof
oseanografi. www.wikipedia.com
(dikunjungi pada tanggal 06 januari 2010)
o Effendi, H., 2003. Telaah Kualitas Air.
Penerbit Kanius. Yogyakarta. 258 Hal
o Hadikusumah, P. 1988. Kondisi Arus Pasang
Surut Diperairan Ujung Watu Jeparadalam Proseding seminar EkologiLaut dan
Pesisir I. Puslitbang LIPI dan Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI).
o ∆ Liedis,E.L (1980).The practical salinity
scale (1978) and Its antecedents. 1EEE j.Ocean.Eng, OE-5 (1) : 3-8.
o ∆ Unesco (1981 a). The Practical salinity
scale (1978) and The International Eguation of stale of seawater
(1980).Tech.pap.marsci.36 : 25 pp
LAMPIRAN
A. Lampiran
gambar
(Gambar
pengukuran kecerahan)
(Gambar pengukuran pasut)
Komentar
Posting Komentar