USAHA PENANGKAPAN IKAN DENGAN ALAT
TANGKAP POLE AND LINE PADA KM. SARI
USAHA 07 DI PERAIRAN BITUNG,SULAWESI UTARA
LAPORAN
PRAKTEK
KERJA LAPANGAN
(PKL)
DI SUSUN
O
L
E
H
BAHARI
NIS : 100.1.11.012
PROGRAM STUDY : NAUTIKA PERIKANAN LAUT
SEKOLAH
USAHA PERIKANAN MENENGAH NEGERI LADONG
BADAN
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN.
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sulawesi Utara, khususnya Bitung merupakan salah satu tempat
produksi perikanan yang ada di belahan timur Indonesia, dimana tempat ini
memiliki dermaga perikanan yang baik sekaligus tempat pelelangan ikan yang
strategis. Dengan kondisi dinamis tersebut, maka kami taruna diberi kesempatan
untuk turun langsung dilapangan dan bersosialisasi dengan pengelolah perikanan
dalam hal ini nelayan untuk mengamati jalannya proses pra produksi, produksi
sampai pada penanganan hasil tangkapan.
Sesuai dengan kalender praktek kerja
lapangan dan merupakan suatu program yang ada di SUPM NEGERI LADONG, bahwa
taruna dalam semester II akan melaksanakan Praktek Kerja Lapangan II (PKL II)
yang berorientasi pada produksi perikanan, khususnya kapal penangkap ikan dengan alat tangkap Pole and Line atau Huhate.
Dengan demikian, Praktek Kerja
Lapangan II yang dilaksanakan ini dapat menumbuhkan semangat dan kepribadian
yang cinta akan laut dan jiwa bahari yang tinggi untuk meningkatkan kompetensi
sebagai lulusan SUPM Negeri Ladong yang berkualitas, bermutu dan cerdas
mengelolah lautan.
1.2 Tujuan
1.
Siswa dapat mendeskripsikan hasil pengamatan dan
praktek dilapangan melalui Laporan Praktek Kerja Lapangan II.
2.
Siswa dapat mempelajari dan mendeskripsikan perfoma
sub sistem produksi pada perusahaan perikanan khususnya Pole and Line.
3.
Siswa dapat mempelajari, mendeskripsikan dan
melakukan operasi produksi pada perusahaan penangkapan ikan Pole and Line.
4.
Menambah jam berlayar untuk
para siswa.
BAB
II
KEADAAN
UMUM LOKASI PRATEK
2.1 Letak
Geografis
Letak dan Luas Wilayah
Kota Bitung terletak pada posisi geografis diantara 1023’23‘’ – 1035’39” LU dan 12501‘43 ‘’ – 125018’13’’BT dan luas wilayah daratan 304 km2.
Letak dan Luas Wilayah
Kota Bitung terletak pada posisi geografis diantara 1023’23‘’ – 1035’39” LU dan 12501‘43 ‘’ – 125018’13’’BT dan luas wilayah daratan 304 km2.
2.2 Batas Wilayah
Sebelah Selatan berbatasan dengan : Laut Maluku,
Sebelah Utara berbatasan dengan : Kecamatan Likupang dan Kecamatan Dimembe (Kabupaten Minahasa Utara),
Sebelah Timur berbatasan dengan : Laut Maluku dan Samudera Pasifik
Sebelah Barat berbatasan dengan : Kecamatan Kauditan (Kabupaten Minahasa Utara).
Sebelah Selatan berbatasan dengan : Laut Maluku,
Sebelah Utara berbatasan dengan : Kecamatan Likupang dan Kecamatan Dimembe (Kabupaten Minahasa Utara),
Sebelah Timur berbatasan dengan : Laut Maluku dan Samudera Pasifik
Sebelah Barat berbatasan dengan : Kecamatan Kauditan (Kabupaten Minahasa Utara).

Gambar,01
peta kota bitung
2.3 Topografi dan
Iklim
Dari aspek topografis, sebagian besar daratan Kota Bitung berombak berbukit
Dari aspek topografis, sebagian besar daratan Kota Bitung berombak berbukit
45,06 %, bergunung 32,73 %, daratan landai 4,18 %, dan
berombak 18,03 %. Di bagian timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai
dengan Tanjung Merah di bagian barat, merupakan daratan yang relatif cukup
datar dengan kemiringan 0-150, sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai
wilayah perkotaan, industri, perdagangan dan jasa serta pemukiman.
Di bagian utara keadaan topografi semakin bergelombang dan berbukit-bukit yang merupakan kawasan pertanian, perkebunan, hutan lindung, taman margasatwa dan cagar alam. Di bagian selatan terdapat Pulau Lembeh yang keadaan tanahnya pada umumnya kasar ditutupi oleh tanaman kelapa, hortikultura dan palawija. Disamping itu memiliki pesisir pantai yang indah sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi daerah wisata bahari.
Di bagian utara keadaan topografi semakin bergelombang dan berbukit-bukit yang merupakan kawasan pertanian, perkebunan, hutan lindung, taman margasatwa dan cagar alam. Di bagian selatan terdapat Pulau Lembeh yang keadaan tanahnya pada umumnya kasar ditutupi oleh tanaman kelapa, hortikultura dan palawija. Disamping itu memiliki pesisir pantai yang indah sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi daerah wisata bahari.
BAB III
PELAKSANAAN
KEGIATAN
3.1 Persiapan
Sebelum berlayar diadakan persiapan–persiapan di darat, diawali
dengan mempersiapkan segala keperluan yang berhubungan dengan pengoperasian pole and line yang meliputi :
1.
Menyiapkan surat atau
dokumen kapal :
a.
Surat izin berlayar
b.
Surat kelaikan dan pengawakan
kapal penangkap ikan
c.
Surat izin penangkapan ikan
(SIPI)
d.
Surat ukur Kapal
e.
Daftar sijil Awak kapal
2.
Menyiapkan alat dan bahan :
a.
Mengisi air tawar
b.
Mempersiapkan pembekalan
makanan
c.
Mengisi persediaan es balok
d.
Mengisi bahan bakar minyak
e.
Mengatur alat tangkap
3.
Mempersiapkan alat navigasi dan alat bantu navigasi
a.
Kompas
b.
Global Position System (GPS)
c.
Radio Telefon (SSB)
d.
VMS Transmitter
4.
Mempersiapkan alat bantu
lainya
a.
Keranjang
b.
Ember
c.
Sibu-sibu besar dan keci
5.
Memeriksa kondisi mesin,
a.
Motor induk
-
Mengecek
bahan bakar tangki induk dan tangki harian.
-
Mengecek
Oli
-
Mengecek
filter minyak/saringan minyak
-
Mengecek
water coller/air pendingin
-
Membuka
kran air pendingi
b.
Motor listrik
-
Mengecek bahan bakar
motor listrik
-
Mengecek
air pendingin
c.
Motor pompa air, alkon
-
Mengecek
bahan bakar
-
Mengecek
saluran air pada pipa-pipa sampai dengan tempat keluarnya hujan buatan
d.
Peralatan untuk memperbaiki mesin apabila terjadi
kerusakan
3.2 KAPAL
3.2.1
Pegertian kapal
a) Kapal
Perikanan (1) adalah kapal atau
perahu atau alat apung lainnya yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan
ikan, termasuk untuk melakukan survei atau eksplorasi perikanan. (Pasal 1 Angka 8 UU Nomor 9 Tahun 1985
Tentang Perikanan).
b) Kapal
Perikanan (2) adalah kapal,
perahu, atau alat apung lain yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan
ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan
ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan, dan penelitian/eksplorasi
perikanan. (Pasal 1 Angka 9 UU Nomor
31 Tahun 2004 Tentang Perikanan).
c) Kapal Perikanan
(3) adalah kapal, perahu, atau alat apung lain
yang digunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan
ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan
perikanan, dan penelitian/eksplorasi perikanan. (Pasal 1 Angka 9 UU Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan).
3.2.2
Spesifikasi Kapal Pole and Line
Kapal pole and
line umumnya telah dikenal oleh para nelayan sebagai kapal
Huhate karena dilengkapi
dengan bak umpan hidup ( life baittank), sistem percikan air
(spray water), Huhate (pole and line) dan palkah ikan
(fish hold), namun penggunaan
kapal tersebut oleh para nelayan masih secara tradisional, baik dari
bentuk serta
ukurannya masih belum sempurna, oleh karena rancang bangun kapal
tersebut
tanpa didukung dengan rancangan/ desain yang tepat dan cermat.
Kapal pole and line adalah kapal dengan bentuk yang strem line dan
mampu
berolah gerak, lincah dan tergolong kapal yang mempunyai speed
service yaitu
diatas 10 knot dengan stabilitas yang baik untuk mengejar gerombolan
ikan, yakni
kapal tersebut sambil olah gerak menangkap ikan, ( Direktorat
Jenderal Perikanan,
1994).
Kapal huhate pada dasarnya digunakan untuk menangkap ikan tuna dan
cakalang. Pada saat pelaksanaan penangkapan ikan nelayan atau awak
kapal
berada di lambung kapal atau para -para khusus dilambung kapal dan
memancing
ikan dengan menggunakan alat penangkap pole and line serta bersamaan
dengan
adanya sistem penyemprotan air sambil menaikkan ikan jika ikan
terkait pada
pancing hal ini merupakan ciri khas dari kapal huhate. Kapal huhate
biasa
digunakan untuk menanghkap atau memancing ikan cakalang yang
terpikat dengan
umpan hidup serta semprotan air, oleh karena itu kapal huhate harus
dilengkapi
dengan bak atau palkah penampung umpan hidup dan dibantu dengan
sirkulasi air
dan dilengkapai
dengan moto rbantu untuk mengalirkan air sprayer atau semprotan:
(sumber,
http://www.pusluh.kkp.go.id/index.php/arsip/file/89/penangkapan-ikan-dengan-poleline.pdf/)
Table,01 spesifikasi kapal
NO
|
Spesifikasi
|
Keterangan
|
|
Nama Kapal
|
KM . Sari Usaha 07
|
|
Alat Penangkapan Ikan
|
Huhate ( pole and line)
|
|
Gross Tonnage
|
81 GT
|
|
Tenaga Pendorong
|
640 HP
|
|
Milik
|
Frando Maringka
|
Sumber.
KM.Sari Usaha 07
3.2.3 Struktur
organisasi di atas Kapal
Struktur organisasi di atas Kapal (KM.Sari Usaha 07)
di samping pengorganisasian di perusahaan terdapat juga struktur organisasi di
laut (kapal). Struktur organisasi ini dibutuhkan dengan tujuan agar seluruh
aktivitas di atas kapal dapat dilaksanakan dengan baik oleh masing - masing
orang yang sudah ditempatkan dalam struktur organisasi tersebut. Dalam struktur
organisasi KM. Sari Usaha 07 terdiri dari bagian dek dan mesin.
Berikut ini adalah struktur organisasi yang ada di KM.Sari Usaha 07:
Tabel 02 Struktur organisasi:


















3.3 ALAT TANGKAP
Huhate (pole and line) merupakan salah satu jenis alat penangkap
ikan yang
dapat diklasifikasikan
sebagai alat pancing yang biasanya khusus dipakai dalam
penangkapan ikan
cakalang (katsuwonus pelamis). Alat tersebut digunakan secara
perorangan,
sehingga salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan
penangkapan ikan
adalah ketrampilan individu awak kapal, dan masalah -masalah
lainnya seperti
tersedianya umpan hidup, kepadatan gerombolan ikan cakalang yang
menjadi tujuan
tangkap didaerah tersebut atau daerah penangkapan ikan pole and
line. Hasil
tangkap ikan-ikan pelagis, terutama ditujukan untuk menangkap ikan
cakalang
(katsuwonus) walaupun ada ikan tuna yang tertangkap.
Alat penangkap
pole and line tersebut konstruksinya sangat sederhanadan
hanya terdiri
dari bagian – bagian sebagai berikut :
a) Joran atau galah, bagian ini terbuat dari
bahan bambu yang cukup tua dan
memiliki tingkat
elastisitas yang tinggi atau ba ik, pada umumnya digunakan
bambu yang
berwarna kuning atau fibre glass. Panjang j oran berkisar 2 – 3,5
meter dengan
diameter pada bagian pangkal 3 – 4 cm dan bagian ujung

sintetis plastik atau fibres. (sumber,
http://www.pusluh.kkp.go.id/index.php/arsip/file/89/penangkapan-ikan-denganpoleline.pdf/)
Gambar,02
Joran
b) Tali sekunder, dari bahan kawat baja (wire
leader) dengan panjang berkisar
5 -15 cm yang
terdiri 2 – 3 untai yang dipintal dengan diameter 1,2 mm. Hal
ini dimaksudkan
untuk mencegah terputusnya tali utama dengan mata
pancing sebagai
akibat dari gigitan ikan
Adapun gambar
dari tali sekuder, seperti di bawah ini:

Gambar,03
Tali Sekuder
c) Tali utama (main line), terbuat
dari bahan sintetis polyethy lene
(PE)monofilament
atau multifilamentdengan panjang sekitar 1,5 – 2,5 meter
yang disesuaikan
dengan panjang joran yang digunakan, cara pemancingan,
tinggi haluan
kapal dan jarak penyemprotan air. Diameter tali utama 0,2 – 0,5cm.
Adapun gambar
dari tali utama, seperti di bawah ini:
![]() |
Gambar,04
tali utama
d) Mata pancing (hook) dimana
ujungnya tidak berkait balik dengan ukuran
menggunakan
nomor mata pancing adalah 2,5 – 3. Pada bagian atas mata
pancing terdapat
timah berbentuk silinder dengan panjang sekitar 2 cm
Adapun gambar
mata pacing yang di gunankan adalah seperti di bawah ini:

Gambar,05
mata pancing
3.4 Alat Bantu Penangkapan
a) Umpan
Umpan hidup merupakan faktor pembatas ( limiting
faktor) dalam
penangkapan
cakalang. hal ini memberikan petunjuk bahwa keberhasilan dalam menangkap ikan
cakalang tergantung dari jumlah umpan hidup yang digunakan.
Dalam
penangkapan ikan cakalang dengan menggunakan huhate ( pole and line)
biasanya
dibutuhkan beberapa jenis ikan umpan untuk mengumpulkan ikan cakalang
di area kapal
penangkap ikan yang digunakan. Pada umumnya ada 6 jenis ikan
umpan hidup yang
digunakan yaitu jenis ikan :
a) Puri kepala
merah (Stelephorus divisi)
b) Puri kepala
batu (Hypoat therina barnesi)
c) Puri gelas
(Stolephorus indicus)
d) Gosao
(Sprattelloides delicatulus)
e) Lompa
(Thrissina baelama forska)
f) Tembang
(Sardinela fimbriata)
Dari keenam
jenis umpan yang digunakan memiliki karateristik yang tidak jauh
berbeda sebagai
umpan penangkapan cakalang .
Gambar 4.
Jenis-Jenis ikan Umpan






Gambar, 06 Jenis-jenis Umpan
b) Pipa Penyemprotan
Alat bantu penyemprotan
air ini di gunakan pada saat melakukan pemancingan
Alat ini di gunakan untuk mempengaruhi penglihatan ikan terhadap
kapal dan para pemancing,
Adapun menurut sumber yang saya baca,
Pipa penyemprot
digunakan untuk menyemprot air ke permukaan air di sekitar kapal
dengan posisi pada gerombolan ikan Tujuan dari
penyemprotan air tersebut
adalah untuk
mengelabui ikan-ikan yang berada di permukaan air yang terdapat
gerombolan ikan
didekat kapal. Pipa penyemprot ditempatkan di sepanjang pila -
pila atau
sekeliling lambung kapal, bahan yang digunakan pila pila dari bahan
paralon atau
dari pipa besi pada ujungnya dipasang kran diameter pipa 3,5
inchi.Tekanan
penyemprotan air tersebut dilengkapi dengan pompa air(waterpump).
(sumber,
http://www.pusluh.kkp.go.id/index.php/arsip/file/89/penangkapan-ikan-denganpoleline.pdf/)

Gambar,07 pipa penyemprotan
c) Alat
Tambahan ;
Alat tambahan yang perlu
dipersiapkan antara lain digunakan untuk membantu proses penangkapan ikan di
laut dan membantu proses penanganan ikan hasil tangkapan di laut guna
kelancaran operasi penangkapan ikan. Alat -
alat tersebut adalah keranjang, bak pelempar umpan hidup, ember, scoop net besar dan scoop net kecil.


Gambar
08. Scoop Net Besar dan Kecil

Gambar,09 bak pelemparan umpan
3.5 Alat Bantu
Navigasi
a.
Kompas ; Merupakan alat navigasi yang
sangat berperan penting dalam menunjukkan arah yang harus di ambil dalam
berlayar, jenis kompas yang digunakan di KM.Sari Usaha 07 adalah kompas basah.
Adapun gambar kompas yang di gunankan,seperti yang di bawah ini:

Gambar,10 kompas
b)Global Position System (GPS) merupakan alat navigasi yang lebih modern dibandingkan dengan
kompas, GPS dapat menunjukkan
kecepatan kapal, sudut baringan, posisi kapal dan jarak yang di tempuh kapal
saat melakukan pelayaran menuju fishing
ground. Selain itu dalam merencanakan pelayaran, nakhoda telah membuat way point yang telah di simpan dalam GPS tersebut, sehingga dalam pelayaran
kapal dapat langsung menuju ke fishing
ground

Gambar,11
GPS
c) Radio Komunikasi ;
Untuk keselamatan jiwa di laut, sesuai dengan aturan komunikasi GMDSS dan SOLAS (Safety of Life at Sea) maka diwajibkan bagi kapal - kapal
yang berlayar lebih dari 12 mil laut harus dilengkapi radio telekomunikasi MF dan DSC. selain untuk itu radio ini dapat digunakan untuk mengetahui
posisi ikan
Adapun gambar radio kumunikasi yang di gunakan,seperti di bawah ini
:

Gambar,12
Radio Komunikasi
d)
Teropong merupakan alat yang sangat penting dalam membantu mengamati
gerombolan ikan yang ada dipermukaan laut pada siang hari dan dapat melihat
tanda rumpon dari jarak yang sangat jauh.

Adapun teropong yang di gunakan,seperti di bawah ini
Gambar,13 Teropong
3.6 Daerah Penangkapan Ikan
Penentuan daerah penangkapan ikan yang
umum dilakukan oleh nelayan
sejauh ini masih menggunakan cara
-cara tradisional, yang diperoleh secara turun -
temurun. Akibatnya, tidak mampu
mengatasi perubahan kondisi oseanografi dan
cuaca yang berkaitan erat dengan
perubahan daerah penangkapan ikan yang
berubah secara dinamis. Ekspansi
nelayan besar ke daerah penangkapan nelayan
kecil mengakibatkan terjadi
persaingan yang kurang seh at bahkan sering terjadi
konflik antara nelayan besar dengan
nelayan kecil. Secara garis besarnya daerah
penangkapan, penyebaran dan migrasi
ikan sangat luas, yaitu meliputi daerah tropis
dan sub tropis dengan daerah
penangkapan terbesar terdapat disekitar perairan
khatulistiwa.
Daerah penangkapan ikan merupakan
salah satu faktor penting yang dapat
menentukan berhasil atau tidaknya
suatu operasi penangkapan ikan. Dalam
hubungannya dengan alat penangkap,
maka daerah penangkapan tersebut haruslah
baik dan dapat menguntungkan dalam
arti ikan melimpah, berg erombol, daerah
aman, tidak jauh dari pelabuhan dan
alat penangkap mudah dioperasikan, (Waluyo,
1987). Lebih lanjut Paulus (1986),
menyatakan bahwa hal ini erat hubungannya
dengan kondisi oseanografi dan
meteorologi suatu perairan dan faktor biologi dari
ikan-ikan itu sendiri. Musim
penangkapan di perairan Indonesia bervariasi, musim
penangkapan di suatu perairan belum
tentu sama dengan perairan yang lain.
Berbeda dari musim ke musim dan
bervariasi menurut lokasi penangkapan. Bila hasil
tangkapan lebih banyak dari
biasanya disebut musim puncak dan apabila dihasilkan
lebih sedikit dari biasanya musim
paceklik.
Pengetahuan mengenai penyebaran dan
bioekologi berbagai jenis ikan
sangat penting artinya bagi usaha penangkapan,
data dan informasi tentang
penyebaran dan
bioekologi ikan pelagis sangat diperlukan dalam mengkaji daerah
penangkapan
ikan di suatu perairan seperti perairan laut Banda, kawasan Timur
Indonesia,
kawasan Samudera Hindia dan lain sebagainya.
(sumber, http://www.pusluh.kkp.go.id/index.php/arsip/file/89/penangkapan-ikan-denganpoleline.pdf/)
3.6.1
Fishing ground
Daerah penangkapan KM. Sari Cakalang 07 umumnya
dilakukan di Laut Sulawesi dimana terdapat beberapa rumpon yang telah dipasang
sebelumnya oleh para nelayan sekitar maupan rumpon milik dari perusahaan PT. Pelayaran Beta Putra Daerah yang dimanfaatkan oleh nelayan
penangkap ikan lainnya.

Gambar,14 fishing
groud
Daerah penangkapan dapat berubah apabila dipengaruhi
oleh migrasi ikan, migrasi ikan adalah pergerakan perpindahan dari suatu tempat
ke tempat yang lain yang mempunyai arti penyesuaian terhadap kondisi alam yang
menguntungkan untuk eksistensi hidup dan keturunannya. Ikan mengadakan migrasi
dengan tujuan untuk pemijahan, mencari makanan dan mencari daerah yang cocok
untuk kelangsungan hidupnya.
A)Rumpon
Dalam upaya meningkatkan hasil tangkapan ikan,
khususnya ikan pelagis
adalah sangat terbatasnya alat bantu untuk menentukan atau mencari
gerombolan
ikan berkaitan erat dengan daerah penangkapan ikan, seperti nelayan yang
mau
menangkap ikan yang berangkat dari pangkalan untuk menangkap ikan sehingga
selalu berada dalam ketidak pastian tentang lokasi yang potensial untuk
penangkapan ikan, sehingga hasil tangkapannya juga menjadi tidak pasti.
Rumpon merupakan salah satu alat bantu untuk meningkatkan hasil
tangkapan dimana mempunyai konstruksi menyerupai pepohonan yang dipasang
(ditanam) disuatu tempat di perairan laut yang berfungsi debagai tempat
berlindung,
mencari makan, memijah, dan berkumpulnya ikan.Sehingga rumpon dapat
diartikan
tempat berkumpulnya ikan.
Untuk mengefisiensikan operasi penangkapan ikan, rumpon merupakan alat
bantu penangkapan ikan yang berfungsi sebagai pembantu menari perhatian
ikan
agar berkumpul disuatu tempat yang selanjutnya dilakukan penangkapan
ikan.
Rumpon telah menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan dae rah
penangkapan
buatan dan manfaat keberadaannya cukup besar. Sebelum mengenal rumpon,
nelayan menangkap ikan dengan cara mengejar ikan atau menangkap kolompok
ikan, yang terlihat di permukaan air. Saat ini makin berkembangnya
rumpon maka
pada saat musim penangkapan, lokasi atau daerah penangkapan menjadi
pasti
disuatu tempat yaitu di tempat lokasi rumpon.
Dengan telah ditentukan daerah
renang ikan
dengan menyisir laut yang luas yang belum tentu kapan menemukan
adanya kelompok
ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Nelayan di beberapa
daerah telah
banyak menerapkan rumpon ini, di Utara pulau Jawa telah lama
mengenal rumpon
untuk memikat ikan agar berkumpul disekitar rumpon, sehingga
memudahkan
penangkapan ikan.Rumpon pada umumnya dipasang (ditanam) pada
kedalaman 30-75
meter,
(sumber, http://www.pusluh.kkp.go.id/index.php/arsip/file/89/penangkapan-ikan-denganpoleline.pdf/)
B)
Fungsi Rumpon
Beberapa keuntungan dalam penggunaan
rumpon yakni; memudahkan
pencarian gerombolan
ikan, biaya eksploitasi dapat dikurangi dan dapat
dimanfaatkan oleh
nelayan kecil, (DirektoratJenderal Perikanan, 1995)
Funsi rumpon sebagai
alat bantu dalam penangkapan ikan adalah sebagai berikut ;
a) Sebagai tempat
mengkonsentrasi ikan agar lebih mudah ditemukan
gerombolan.
b) Sebagai tempat
berlindung bagi ikan dari serangan ikan predator.
c) Sebagai tempat
berkumpulnya ikan
d) Sebagai tempat
untuk memijah bagi ikan
e) Sebagi tempat
pertumbuhan plankton
f) Sebagai tempat
mencari makan
g) Sebagai tempat berkumpulnya ikan.





Gambar 15 Rumpon
Banyak ikan-ikan
kecil dan plankton yang berkumpul disekitar rumpon dimana ikan
dan plankton
tersebut merupakan sumber makanan bagi ikan besar. Ada beberapa
jenis ikan pelagis
seperti tuna dan cakalang yang berkumpul di sekitar rumpon.
3.7 Proses Penangkapan
·
Tehnik pengoperasian : Setelah
semua persiapan telah dilakukan termasuk penyediaan umpan hidup, maka dilakukan
pencarian gerombolan ikan oleh seorang pengintai yang tempatnya di atas
anjungan kapal dan menggunakan teropong.
Pengoperasiaan
alat tangkap pole and line di KM.
Sari Usaha 07 menggunakan sistem banting dan penangkapan/pemancingan ini
biasanya dilakukan di dekat rumpon yang telah di pasang terlebih dahulu.
setelah menemukan gerombolan ikan, harus diketahui arah renang gerombolan ikan
tersebut. Kemudian mendekati gerombolan ikan tersebut sementara itu pemancing
harus sudah siap pada sudut kanan, kiri dan depan di haluan kapal. Cara
mendekati gerombolan ikan harus dari sisi kanan dan kiri dan bukan dari arah
belakang.
Pelemparan
umpan dilakukan oleh juru umpan setelah diperkirakan ikan telah berada dalam jarak jangkauan
lemparan, kemudian ikan di tuntun kearah haluan kapal. Pelemparan umpan ini
diusahakan secepat mungkin sehingga gerakan ikan dapat mengikuti gerakan umpan
menuju haluan kapal. Pada saat pelemparan umpan tersebut, mesin penyemprot
sudah dihidupkan agar ikan tetap berada
di dekat kapal dan setelah itu mesin kapal di netralkan.
Sementara
jumlah umpan yang dilemparkan ke laut dikurangi, mengingat terbatasnya umpan
hidup. Selanjutnya, pemancingan dilakukan dan diupayakan secepat mungkin
mengingat kadang - kadang gerombolan ikan tiba - tiba menghilang terutama jika
ada ikan yang berdarah atau ada ikan yang lepas dari mata pancing dan jumlah
umpan hidup yang terbatas. Pemancingan biasanya berlangsung 15 - 30 menit, hal
ini tergantung dari jumlah ikan yang berada di bawah kapal.


Gambar,16 Proses Penangkapan
3.8 Penanganan Hasil Tangkapan




Gambar,17
proses penanganan ikan di atas kapal

Gambar,18 penyusunan ikan dalam palkah
3.9
Hasil Tangkapan
·
Hasil tangkapan : Jenis - jenis
hasil tangkapan utama yang di dapat di KM. Sari usaha 07 ialah ikan tuna sirip
kuning dan cakalang.

Gambar
19. Ikan cakalang(katsuwo pelamis)
Selain
itu ada juga beberapa hasil tangkapan sampingan yang diperoleh pada saat
operasi penangkapan berlangsung/pemancingan berlangsung seperti ikan lemadang
dan ikan suruk.

Gambar
20. Ikan lemadang(Coryphaena
hippurus)
BAB IV
TATA NIAGA
4.1 Pembokaran hasil
tangkapan

Gambar, 21 Pembongkaran Hasil Tangkapan
4.2 Pemasaran Hasil Tangkapan
Setelah proses pembongkaran selesai dilakukan, hasil tangkapan yang
ada di perusahaan seterusnya di proses sendiri seperti ikan kaleng dan ada yang
di kirim ke jakarta dan bali, ada beberapa perusahaan lain yang membeli untuk
dijadikan bahan baku dari perusahaan tersebut, ada juga para wiraswasta yang
membeli untuk di jual di pasar lokal.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1.
Produksi yang dihasilkan dalam
usaha penangkapan ikan dengan pole and line adalah ikan cakalang sebagai bahan
baku produksi olahan dan bahan konsumsi ikan lainnya.
2.
Teknik pengoperasian pole and line di dalam dengan
bekerja sama antara pemancing, kapten kapal yang sekaligus sebagai fishing
master. Melempar umpan sebelum mendekati fishing ground, buoy-buoy sebagai
pelempar umpan hidup setelah berada di fishing ground, agar ikan mendekati sisi
lambung kapal dan di pemancingan di lakukan para pemancing, hingga ikan d
tangkap dan di taruh di dalam palka.
3.
Konstruksi pole and line terdiri dari : joran (pole),
tali yang termasuk tali kepala, tali induk dan tali pancing serta pancing yang
di beri umpan palsu.
5.2 Saran
1.
Sebaiknya setiap kapal pole and line memiliki alat bantu penangkapan seperti Fish
Finder, untuk mengetahui gerombolan ikan yang ada di bawah kapal demi
kelancaran penangkapan ikan.
2.
Sebaiknya
persediaan umpan diperbanyak untuk menghemat biaya akomodasi.

6.1 Lampiran 1. Proses penangkapan


Gambar. Proses pemindahkan umpan Gambar, Persiapan alat tangkap
dari bagan ke kapal


Gambar . Pengintaian gerombolan ikan Gambar. Pengoprasian alat tangkap


Gambar . Penaganan di kapal Gambar . Penanganan di darat
Lampiran
2. Alat- alat navigasi


a.
Kompas b. Teropong


c. GPS d. Transmitter GPS


a.
Transmitter Position f. Radio komunikasi
Komentar
Posting Komentar